Jupiter and I

Shut up

Shut your mouth

Stop it now

Yes you burn

But not your soul

So shut it down

Now!

But I aint angel… I’m Moon…

“Are you worth it?”

Aku menatapnya lembut.

Aku merasa ia mulai menarik diri.

Apakah ia melihat aku sebagai sosok yang berbeda hari ini? Dengan sikap jinakku, buku New Moon di tanganku, dan green tea latte di depanku yang membuat selera minum kopinya menguap. Dia bahkan tak memberitahuku akan serbuk hijau yang menempel di bibirku sampai aku menyadarinya sendiri di cermin toilet plaza.

Atau justru pada hari inilah ia melihatku sebagai sosokku yang sebenarnya? Entah ia dengan jelas menyadarinya atau tidak, wanita-wanita yang pernah masuk dalam hidupnya selalu berambut kriting ikal seperti aku saat ini. Mungkin setahun terakhir ini aku tampak mirip dengan salah satu dari mereka dalam setelan kaos jeansku. Namun hari ini aku mengenakan busana bergaya Indian yang kalem. Berwarna hijau lumut dengan pita tali berhias bulu burung di kedua ujungnya. Tidak spesial untuknya memang. Hari ini dingin dan baju ini tebal. Dan aku sedang ingin memadankannya dengan sepasang tas dan sepatu suede coklat tua. Kalau rambutku masih panjang, aku akan membuat dua jalinan.

Ia melihatku seperti Edward Cullen melihat Bella berpakaian ala kaum werewolf yang amat dibencinya. Namun ia menahan diri dan melanjutkan niatnya menemuiku untuk mendapatkan informasi mengenai runtutan proses castingku dengan orang-orang pencari bakat itu. Dia tampak kecewa saat kukatakan aku tak tahu pasti pendapat mereka atas demo-demo laguku yang kebanyakan adalah hasil ciptaannya.

Lalu di sepanjang sisa pertemuan ia membalas dengan membuatku menahan mual mendengarkan idealismenya yang perfeksionis tidak kenal tawar menawar dengan kenyataan.

Kami tahu kami tak ingin bertemu lagi dalam waktu yang terlalu dekat.

“Friend? Or… whatever”

Sejak awal aku menyadari kalau aku hanya akan membuang-buang energiku untuk lebih jauh memikirkan Jupiter. Kedua sahabatku tak pernah merekomendasikannya selain untuk kumanfaatkan sebagai guru bermusikku.

Tapi aku tahu dia bukan orang bodoh. Intuisiku menangkap hasratnya dan telingaku mendengarkan keinginannya atas tubuhku. Namun ia tidak ingin mendapatkannya dengan mudah. Aku harus bermain dulu dengannya.

Saat memulainya aku jauh lebih percaya diri akan dapat melindungi diriku dari jebakan-jebakan kecilnya. Rasanya kali ini akan lebih sulit, setelah malam itu ia begitu baik dan sabar denganku. Hadir di saat aku telah tak menginginkan bantuan. Semalaman menjadi kacung editorku mempersiapkan potongan-potongan musik dan lagu untuk demo tape-ku. Apapun motivasinya saat membantuku, aku tak bisa mengingkari hatiku untuk mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Terlalu naif untuk menganggap ia membantuku karena ia sedang ingin baik. Aku mungkin telah mengantarkan diri pada sebuah perangkap raksasa. Ah, tentu saja laba-laba akan bersikap santai saat mendekat pada korban yang telah tersangkut pada jaringnya. Namun aku pun bukan lalat sembarangan. Sikap nyamanku malah membuatku menjadi hidangan yang tak lagi menarik baginya. Hal ini akan membuatku aman hingga ia menendangku keluar dari sarangnya karena bosan. Lalu aku akan memulai lagi dari awal. Menari dan mengibaskan sayap kecilku di sekitar sarangnya dan membuatnya kembali mengundangku.

Begitulah rencananya.

“What if…”

Aku sedang merasa sakit dan menyembunyikan diriku di balik gerhana. Aku marah pada Bumi karena telah membuatku percaya dapat menjadi bintang di saat yang begitu singkat dan di saat yang menurutku tidak tepat. Ketika segala intuisiku negatifku akhirnya terbukti ia malah membelakangiku dan membiarkanku menikmati kegetiranku sendirian.

Di balik selimut aku melirik jagat raya yang seolah menanti untuk mulai menertawakanku. Saat ini sungguh aku sangat… sangat membenci Bumi. Jupiter adalah hal manis terakhir yang kuingat sebeum semua kepahitan ini dan aku ingin bermain dengannya.

Tapi Jupiter tengah diam dalam guanya. Setelah pertemuan terakhir kami kemarin terinspirasi menjadi bintang jugakah ia? Masihkah ia ingin tahu akan kesialanku? Atau ia tengah mempersiapkan panggung raksasa yang selalu menjadi obsesinya dan juga berbonus janji dariku untuk membiarkannya menemaniku tidur bila ia berhasil.

Yeah, aku memang menantangnya untuk itu. Walaupun ia protes akan memakan waktu yang lama untuk mewujudkannya. Waktu yang cukup lama untuknya menemukan bulannya sendiri tentu (dan melupakan semua fantasinya denganku) pikirku, and of course waktu yang cukup untukku mengeruk ilmu darinya dengan rasa aman yang lebih terjamin.

Tapi sepertinya… saat ini Jupiter justru menghindariku. Walaupun aku bisa merasakan keberadaanku di dalam kepalanya, ia menahan dirinya oleh suatu sebab. Aku hanya berharap ia mulai menyayangiku dan memang tak ingin aku melunak.

Bagaikan tokoh hero Ironman yang menyelubungi tubuhku dengan besi, dan bagaikan Batman yang tinggal di dalam gua rahasianya, kami memiliki alasan masing-masing untuk melindungi diri kami. Bedanya aku telah terlanjur menginjakkan kakiku di sana, di dalam guanya. Walaupun aku tahu ia merasa tertantang untuk dapat membuka selubung besiku, tapi ia tak pernah ingin aku membukanya sendiri dengan sukarela. Bila ia juga tahu aku tengah membenci Bumi, maka ia akan memalingkan wajahnya dariku selamanya.

Tak ada tantangan = tak ada roman. Dan aku tahu ia memang tak pernah berniat membangun gua untuk dua orang. Tidak sampai kapanpun.

Tapi itu tak menjadi masalah karena aku sedang ingin bermain dengannya. Aku tak tahu apakah kutukan para malaikat dapat menghentikanku melakukannya.

Moon calling Jupiter… Iron(wo)man calling Batman…

“And if I choose you…”

Untuk kesekian kalinya impian menguji daya tahanku. Walau aku telah penuh luka bahkan tengah merasa perih, hasrat itu masih saja ada di sana. Seperti kutukan yang telah menemukan wilayah nyaman dalam empeduku dan tak henti meracuni setiap bulir darahku dengan impian gemintang. Justru di saat tengah terluka seperti ini, virus itu mengasap ganas mengaburkan pandangan mata dan kewarasan nalarku yang sejak awal memang sudah tidak normal.

Dan aku tahu bukan aku saja terkontaminasi virus itu sejak lama.

Bagaimana Jupiter akan menolakku, seorang perempuan yang cukup manis untuk teman mabuk bersama dan punya daya kekebalan tinggi meladeni bualannya yang sebesar tubuhnya itu.

Aku mengambil gitar dan menyanyikan sepotong lagu Olivia di depan gua cyber-nya…

Hey have you ever tried

Really reaching out for the other side?

I may be climbing on rainbows

But, baby here goes

Life can be short or long

Love can be right or wrong

And if I choose the one I like to help me through

I’dlike to make with you

I really think that we can make it boy

Baby you know that..

Silakan menertawakan fantasiku Jupiter, tapi ini adalah proposal. Proposalku untuk mengorbit padamu dan apapun keuntungan yang mungkin kau peroleh selama aku bermain di sarangmu.

I’d let my self burn, burn through my soul… if you’re lucky.

I wont be easy. I promise.

To be continued

Tags:

Leave a Reply