Jupiter and I - part 2
“Dan kau…”
Setelah proposal itu, aku bertahan dalam kepasifanku. Biarlah Jupiter mempertimbangkannya dulu. Mungkin ia belum menemukannya. Mungkin ia tengah menikmatinya. Mungkin ia dalam dilema…
Yang pasti aku masih di sini, menunggunya membukakan pintu. Sementara pintuku yang lain tengah kututup dari Bumi, pengecut itu. Walaupun Bumi telah mencoba mengetuknya untuk alasan yang lain, aku tak hendak meladeninya saat ini. Aku tahu ia mulai tersiksa tapi sebaiknya ia segera mencari cara untuk mempertahankan satelitnya. Ia telah bermain-main dengan tali entah apa yang mengikatkan orbitku pada dirinya selama ini. Aku mungkin belum bisa melepasnya tapi aku mulai mengulurnya cukup panjang untuk menjangkau Jupiter.
Aku menunggu dan bertahan.
Aku masih tak mau memikirkan kemungkinan yang terakhir.
Waktu bergulir dan aku bahkan tak lagi mendengar ketukan dari arah belakangku.
Shh…
Silence…
I need silence
But don’t be
Aku tak pernah mengira akan melihat sebuah pintu membayang di sampingku dan sosok yang amat kukenal melangkah kembali ke dalam duniaku.
Saturn!
Reflek kuulurkan tanganku ke arahnya, dan ia menyambutnya dengan senyum.
“Yang tak pernah pergi…”
Aku memandang Saturn tanpa ada keinginan yang dulu pernah membius kewarasanku. Keinginan untuk mengorbit padanya tanpa tahu di mana posisiku dalam lingkaran cincinnya yang penuh dengan pecinta. Keinginan itu telah hilang. Kini yang kurasakan, mungkin lebih mirip mimpi. Mimpi lama yang tiba-tiba muncul dan tak mungkin lagi bisa menyakitiku, karena kini aku lebih kuat.
Saturn memandangku dengan emosi yang tak pernah bisa benar-benar kubaca. Mungkin karena ada sepasang lensa yang membingkai matanya, cermin perasaan itu. Tak sekali dalam fantasi usangku, aku merayap ke atas pangkuannya dan perlahan melepas benda itu dari wajahnya. Tentunya dengan keberanian yang kumiliki pada saat itu, sekalian saja kusampaikan surat cinta bulukan berisi sejuta sanjungan dan firasatku padanya. Tapi yah, 90% wanita dalam usiaku saat itu adalah manusia bego tidak percaya diri dan juga terlalu santun. Aku selamanya tak akan pernah mengerti perasaan lain yang pernah ia punya untukku sampai ia benar-benar menunjukkannya sendiri padaku. Memelukku misalnya. Menciumku mungkin. Namun seandainya rasa itu memang ada, ia tak akan pernah melakukannya, kurasa. Kulihat ia telah bahagia.
Entah apa motivasinya kalau begitu. Membimbingku menapaki tangga-tangga panggung dunia, seperti kakak membimbing adik kecilnya yang penurut. Mengiringiku menyanyikan lagu-lagu lama yang tak lagi menghipnotisku seperti dulu. Lagu-lagu yang hanya membuatku terkenang bahwa dalam keluguanku di masa itu, dalam ketidaktahuanku, dalam ketulusanku, aku pernah merasa sangat bahagia karena dia.
Kenapa kau selalu datang dan datang lagi
Dengan kebaikan
Yang selalu membuat aku:
Kembali padamu?
Ah, bullshit. Kita lihat saja nanti ujungnya. Apa yang kau mau dariku Saturn? Asal kau tau rasaku yang dulu telah kebas. Andaipun kita berdua terjerat dalam api maka aku tak yakin aku akan ikut terbakar.
Baiklah, kalau begitu tak perlu khawatir. Nikmati saja berkah ini. Mungkin saja ia malaikat tak bersayap yang tak menjanjikanmu mimpi muluk berbintang pandora. Kau rasakan saja kehidupanmu kembali berdaya.
Ia mungkin memandangiku selama aku mencoba melenakan pendengar di hadapanku. Aku menangkap segaris senyum kecilnya saat aku menoleh cepat ke arah belakang. Aku menyerap pesan matanya yang mengerjap mantap menguatkan hatiku seolah berkata,
…kau lihat Moon-ku yang sendu, jalan yang tak pernah kautapak karena tak ada yang menunjukkanmu padanya. Kau lihat bintang-bintang itu hanya diam dalam sinarnya, sementara kau di sini melukis cahaya…
“…”
Di sini akhirnya kami bertemu. Saturn, aku, dan Jupiter. Tepatnya Saturn dan aku, lalu Jupiter, berkehendak akan satu serbuk meteor yang sama.
Walaupun Jupiter mencoba bersikap biasa-biasa saja pada Saturn, tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa jijiknya padaku. Pandangan menusuk dan cibirannya, benar-benar dimaksudkan untuk menteror mentalku.
Aku mencari-cari matanya dan tersenyum pahit. So Batman, di sini juga rupanya tempatmu bermain. Tempat yang kau buat bagaikan hutan misteri bagiku. Kini kau lihat tanganku dalam genggaman Saturn menyibakkan padang meteor yang ternyata cukup banyak untuk dipetik oleh kita semua. Well, tapi untuk yang satu ini kita lihat saja akan pulang dalam keranjang siapa.
Dengan berlagak santai Jupiter tetap tampak berusaha menunjukkan bahwa ialah yang terbaik di antara para penjual nada ini. Lagaknya benar-benar membuatku mual. Sementara Saturn tetap dengan gayanya yang menginjak tanah. Walaupun ia merasakan aura persaingan yang tebal dari Jupiter, tapi Saturn telah mempersiapkan mentalku untuk menerima hal terburuk. Jupiter memang masih lebih dalam segala hal. Aku dan Saturn saling memandang dan mengerti bahwa perjalanan kami kali ini mungkin tidak akan membawa pulang apapun.
Akhirnya pada saat yang telah dijanjikan, sang pemilik padang meteor menyampaikan kabar keputusannya. Aku bisa membayangkan wajah Jupiter yang hampir terbelah oleh seringai lebarnya.
Aku sedikit mensyukuri hal itu karena kupikir betapa tergoresnya ego sang Jupiter bila sampai kalah dari duet mini mantan juniornya ini.
Hih, kenapa juga aku masih memikirkan perasaannya?
Go to hell Jupiter, and take all of that shits with you!
To be continued
Tags: Story