Archive for January, 2009

Jupiter and I - part 3 - end

Wednesday, January 21st, 2009

“Say it out loud! Or …No?”

Aku tengah melangkah mencari udara, saat sebuah siluet yang besar menutupi pemandanganku.

Jupiter! Seruku kaget.

Moon, aku tengah merancang sayap untukmu meraih bintang, dan kau mengais-ngais padang tempatku mencari makan. Bersama Saturn! Apa yang kau pikirkan? Tuntut Jupiter sangar.

Mana kutahu yang kau lakukan kecuali bahwa kau tak menjawab proposalku? Elakku kesal. Lagipula simpan saja rancanganmu itu. Aku sudah tak percaya pada sayap. Tak ada sayap yang cukup kuat mengangkat tubuhku kecuali ia tumbuh sendiri dari punggungku!

Ia memandangku sepertinya aku ini kurang gizi.

Tak bisa tumbuh sayap kan nyatanya? Apa Bumi tak cukup memberimu makan? Sindirnya kejam.

Apa kau mau memberiku makan? Tantangku tajam.

Well, tentu saja aku mampu, jawabnya tak mau kalah.

Ya ya, kau mampu tapi tak mau! Teriakku. Kau merasa aman pada tempatmu. Dalam guamu. Jadi biarlah begitu. Demikian juga Saturn. Kalian punya tempat kalian masing-masing dalam radarku. Kalau kau memang ingin aku datang kembali ke guamu, jangan batasi aku!

Tidak dengan Saturn! Tolaknya lagi.

Memang tidak. Mau kau jadikan apa dia? Band pengiringmu? Kau tak akan cukup kuat dengan kenyataan yang akan terjadi di atas panggung, ejekku. Oh ya, Jupiter tak perlu kuingatkan akan cincin pecinta yang masih melingkari Saturn hingga saat ini. Begitu juga dengan jumlah satelitnya yang puluhan itu.

Wajah Jupiter memerah. Telinganya terasa panas.

Apa yang kau janjikan padanya? Tidur bersamamu juga? Jupiter balas menghinaku seperti nenek sihir yang terdesak hingga menjatuhkan labu-labu kacanya sendiri. Pecah berhamburan ke lantai. Mengawinkan sembarang larutan hingga menguapkan serbuk warna bercahaya.

Nafasku terasa berat. Aku tak tega Saturn menerima tuduhan serendah itu. Well… entahlah kalau ia memang berniat. Tapi hingga detik ini Saturn masih tercatat sebagai manusia suci generator darurat hidupku saat ini. Aku mengaum pada Jupiter.

Aku muak dengan permainanmu!

Mendadak, sebuah pintu digedor dengan kuat dari arah belakangku.

Aku hampir lupa dengan yang satu ini. Bumi sepertinya mulai kehabisan kesabarannya.

Aku memandang pintu itu dan Jupiter bergantian.

Masalah utamamu bukan Saturn, ingatku padanya.

Kembali kutantang Jupiter dengan mataku.

Ask me to lock that door, pintaku padanya.

Jupiter seolah kehilangan semua kejantanannya yang belum lama ia acung-acungkan padaku. Ia hanya diam tak bergerak.

Sudah kukira kau hanya mengincar tempat kedua, celaku kejam. Selamanya kau tak akan bisa berubah…

Aku tak mau kamu berubah menjadi Io yang merah dan pencemburu, akunya lirih.

Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang Bumi-ku, yang baru? Tantangku lagi dan lagi.

Jupiter tersedak. Jawaban yang sangat jelas.

Jadi kau mau aku tetap seperti ini Jupe? Putih, mungil, berkilau, dan dari kejauhan. Kau menolak untuk berada terlalu lama denganku. Kau tak mau hidup terlalu dekat hingga kau bisa melihat bopeng-bopeng pada wajahku.

Jupiter memegarkan tubuhnya, menolak intimidasi ini.

Aku punya banyak pilihan, ucapnya mencoba berbalik menyakitiku. Tapi aku lebih percaya bahwa dia berbohong. Ia tahu pikiranku saat melihatku menggeleng-geleng lemah putus asa menghadapi keangkuhannya.

Aku sudah memilihmu. Aku melagu di depan guamu. Jangan berharap aku akan melakukannya lagi, ucapku getir.

Moon, kamu sedang terluka waktu itu. Kamu tidak benar-benar menginginkan aku, tegasnya.

Tapi aku tahu apa yang kau inginkan. Sayang, aku tidak menyediakan tester seperti perempuanmu yang lain, cibirku menghina mereka.

Jupiter tampak tersinggung. Aku tidak pernah… denganmu, aku cuma…, ia menghentikan kata-katanya. Hh, forget it…! Desahnya frustasi.

Ah ya, terlalu sakit untuk kudengar bukan begitu? Gumamku. Jadi kau hanya senang bermain-main dengan tali orbitku tapi selamanya tak akan pernah untuk memintaku untuk mengguntingnya. Sound oh so familier. Very very Jupiter.

Ugh, sudahlah Moon. Jangan membutakan dirimu untuk melihatku tidak lagi seperti perspektifmu yang dulu. Dulu kamu selalu menyayangkan kalau saja aku ini Saturn, gerutunya. Terus kamu bilang hanya Bumi yang pada akhirnya memenuhi kriteria surgamu. Bahkan Saturn pun tidak, tudingmu lagi.

Aku terhenyak.

Ya, aku masih ingat itu. Dulu aku selalu memanasinya bahwa Saturn selalu dapat menemaniku tidur tanpa syarat apapun. Dalam kejengkelannya atas penolakanku, Jupiter selalu menantangku untuk benar-benar melakukannya dengan Saturn. Dan aku hanya tertawa sambil melarikan diri, kembali bergelayut manja pada Bumi.

Jadi satu sama dalam hal ini. Aku mulai kehilangan kepercayaan diriku saat mencoba memandang matanya.

Jupiter melunak akan sikap sportifku.

Friend? Tanyanya seraya mengulurkan tangan padaku.

Aku meliriknya dengan sudut mataku. Tampaknya ia bersungguh-sungguh membutuhkannya dariku. Hanya aku yang sanggup meladeni keangkuhannya hingga sejauh ini. Entahlah kalau ia hanya menganggapku sebagai koleksi hidup yang tak ada ruginya dipertahankan.

Lain kali datanglah dari pintu samping, if you miss me…, pintaku sambil menyentuhkan tanganku dan menariknya kembali dengan cepat. Toh ia masih punya rancangan sayap yang ingin kulihat, pikirku.

Tidak masalah, jawabnya. Menyimpan tangannya kembali dalam saku celananya.

Akan selalu ada dua pintu samping, seruku mengingatkannya pada Saturn.

Terserah, jawabnya kembali gusar. Ia berbalik pergi. Jupiter menoleh kembali kepadaku dengan ekspresi kesal, meleletkan lidahnya padaku.

Well, aku sudah merusak permainannya eh?

Aku balik menjulurkan lidahku padanya.

Entah kapan kami akan memberanikan diri untuk bertemu kembali, setelah ini.

“In the end…”

Akhirnya kubuka juga pintu belakang.

Bumi tampak beku, kedinginan, namun tetap mencoba tegar di depanku. Dia tak pernah punya kata-kata khusus untukku, tapi aku tahu ia membutuhkan aku seperti ia membutuhkan matahari. Ia bahkan menganggapku sama besarnya dengan bintang itu. Tapi saat aku ingin menuntutnya, ia akan menyelamatkan dirinya pada rasionalisasi massa benda. Membuatku kecut dan kecewa. Dengan tatapan dingin mengingatkanku betapa besarnya ia. Maaf saja bila aku sempat luput dari perhatiannya. Namun saat aku ingin meledakkan diriku sendiri untuk menghukumnya, ia selalu bisa membuatku merasa iba dan berbalik mengklaim diriku sendiri sebagai penjahatnya.

Kali inipun, ia berhasil membuatku menelan kembali gada-gada beronak yang telah kusiapkan untuk menghajarnya.

Kenapa kau tak mendekat agar bisa memelukku? Komandoku padanya.

Ia menurut.

Lebih erat, pintaku.

Ia memelukku lebih erat lagi hingga aku bisa merasakan seluruh diriku diinginkan kembali.

Jangan pernah membelakangiku lagi, aku merajuk.

Bumi menatapku bingung seolah berkata, aku gak mengerti apa maksudmu. Tapi apapun itu… Bibirnya berucap pasrah, aku akan membelikanmu bunga…

Maaf, sebuah kata yang tak akan keluar dari mulut Bumi kecuali aku mengeluarkan samurai untuk mengancam langsung urat lehernya.

Lain kali akan kujelaskan, kesalahanmu, senyumku masam. Dia bahkan tak sadar telah melukai hatiku belakangan ini. Sialan, batinku.

Aku bergeming dalam pelukannya.

Rindu, bisiknya jujur sambil memelukku lagi.

Aku mencoba membayangkan Jupiter, ataupun Saturn, namun mereka bagaikan bintang-bintang raksasa yang selamanya tak kan pernah dapat kurengkuh. Cukuplah aku merasa puas menjadi bintang mungil yang melompat-lompat ceria sesekali di wilayah orbit mereka. Cukuplah aku dalam rengkuhan Bumiku yang tidak posesif. Cukuplah aku menikmatinya saja.

Kuangkat kedua lenganku dan balas memeluknya.

Aku juga…, ucapku.

Kulepas pelukanku dan kuoper sebilah gitar usang miliknya.

Mainkan, untukku, pintaku manja.

Bumi menurut. Ini adalah salah satu keahliannya yang ia simpan hanya untukku. Cukuplah sebagai pengganti bunga manapun yang mungkin mewakilkan permohonannya padaku untuk tetap tinggal.

Dawai gitarnya mengalunkan irama klasik. Air on the G String. Sungguh ironis, lagu ini adalah soundtrack saat Jupiter membantuku malam itu.

Entah siapa yang besok akan muncul dari pintu samping kiri dan kananku. Selama belum ada yang membukakan pintu depan untukku, siapapun boleh mengiringi nyanyianku. Aku hanya tak ingin, lantai bawahku ikut terbuka karenanya. Di situ bukan tempat bintang berada.

Lagi-lagi aku terhenyak oleh sebuah ilham.

Apakah ini yang disinggung Jupiter dengan kriteria surga-ku?

Hanya saat bersama Bumi, langit biru membentang di atas kepalaku. Straight to the stars. Straight to heaven. Bahkan Saturn pun tak bisa mengantarkanku ke sana.

Aku merebahkan tubuh, tersenyum dalam buaian gitar kekasihku. Namun senandungku bukan untuknya.

Jupiter menyayangiku.

Bila saatnya nanti tanganku terulur padanya tanpa keinginan seperti aku pada Saturn, maka akupun mengerti, tak perlu ada pintu depan itu, pintu guanya, atau apapun.

Tapi…

Kuletakkan jemariku di atas jemari Bumi yang tengah memetik nada. Ia menatapku was-was. Aku menunggu hingga gema terakhir menguap ke angkasa. Kusingkirkan gitar itu dan kupeluk wajahnya.

Cuma aku yang memandangmu sebesar ini, mungkin terlalu besar, bahkan untukku, bisikku.

Tak pernah aku merasa seyakin ini. Aku bahkan tak merasa perlu berkonsultasi dulu pada dua sahabatku karena aku tahu jawabannya hanya akan menjadi sekutu di saat aku memang membutuhkan mereka untuk menginsafkanku. Tapi maaf, kali ini aku tidak menginginkan akhir yang sama untuk kisahku.

Kuhentakkan lantai di bawah kakiku dan kurasakan diriku jatuh terlepas dari pelukan Bumi yang tak mengerti. Langit surga mengarak di atas kepalanya. Melagukan sesal tertahan kepadaku. Ia tetap berdiri di sana pada lantainya, sementara aku semakin jatuh dan jauh darinya hingga aku menghilang dari pandangannya, dan aku melayang. Lalu mengambang. Diam.

Ternyata tak perlu sebuah gunting untuk membebaskan diriku. Tapi memang tak pernah mudah.

Ke mana aku setelah ini hanya beroleh satu jawaban dalam hasratku. Aku merindukannya. Aku ingin bermain dengannya.

Moon calling Jupiter…

“I choosed you…”

Jupiter menjatuhkan apapun yang tengah dipegangnya saat melihatku berdiri di dalam guanya. Dia tak tahu apa yang terjadi padaku tapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Aku terengah-engah dan tersenyum lebar padanya. Belum sempat kuutarakan maksudku matanya menyeretku untuk melihat ke arah sofa kulit di samping meja kerjanya: gadis-gadis berambut kriting ikal yang tengah duduk berderet menghujaniku dengan tatapan cemburu.

Kamu harus mengantri, ucapnya sambil mencedikkan kedua bahunya seolah tak bisa membuat pengecualian untukku.

No problem, jawabku ringan. Persyaratan masih berlaku kok, ingatku padanya.

Tidak akan lama lagi lho, Jupiter menyeringai senang.

Aku akan mengajak Saturn, godaku.

Jupiter menahan nafasnya seketika. Tapi ia memang jagonya tak mau kalah sejagat raya.

That will be interesting, tantangnya. Kamu bisa langsung menunjuk di tempat, Who is the Best!

So we’ll see, jawabku tenang sambil berbalik pergi.

Mau ke mana? Tanyanya cepat. Terlupa untuk menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya.

Entahlah, jawabku jujur. Ke sini dan ke sana mungkin. Jagat ini sangat luas kau tahu…, ejekku menggodanya.

Sebelum ia berseru lagi aku telah melontarkan diriku sejauh mungkin. Aku tahu gelak tawaku yang tertinggal di ujung kupingnya akan menggelitiknya sepanjang malam ini.

Tidak, aku tidak akan pernah menalikan orbitku pada guanya yang murung itu. Aku sadar sifat posesifku. Satu-satunya kemungkinan ia bisa memilikiku hanya bila ia bersedia menjadi Bumiku yang baru.

Hm, terlalu berambisi mungkin. Tapi bila tidak, menjadi komet lepas bukan pilihan yang buruk kurasa. Aku percaya akan kembali menemukan langit surgaku sendiri. Tak perlu sosok raksasa manapun untuk membawaku padanya.

Akupun melesat. Kubiarkan malaikat mengutuk cemburu karena mereka terikat pada sayap-sayap mereka, sedangkan aku tidak. Well, I aint angel, I’m Moon…

Now you can talk

Now you can smile

Sing

And kiss

Yes, if you’re lucky

To hit and run

And feel free..

That’s all fella! Have a nice day!

aL, January 2009

Jupiter and I - part 2

Wednesday, January 21st, 2009

“Dan kau…”

Setelah proposal itu, aku bertahan dalam kepasifanku. Biarlah Jupiter mempertimbangkannya dulu. Mungkin ia belum menemukannya. Mungkin ia tengah menikmatinya. Mungkin ia dalam dilema…

Yang pasti aku masih di sini, menunggunya membukakan pintu. Sementara pintuku yang lain tengah kututup dari Bumi, pengecut itu. Walaupun Bumi telah mencoba mengetuknya untuk alasan yang lain, aku tak hendak meladeninya saat ini. Aku tahu ia mulai tersiksa tapi sebaiknya ia segera mencari cara untuk mempertahankan satelitnya. Ia telah bermain-main dengan tali entah apa yang mengikatkan orbitku pada dirinya selama ini. Aku mungkin belum bisa melepasnya tapi aku mulai mengulurnya cukup panjang untuk menjangkau Jupiter.

Aku menunggu dan bertahan.

Aku masih tak mau memikirkan kemungkinan yang terakhir.

Waktu bergulir dan aku bahkan tak lagi mendengar ketukan dari arah belakangku.

Shh…

Silence…

I need silence

But don’t be

Aku tak pernah mengira akan melihat sebuah pintu membayang di sampingku dan sosok yang amat kukenal melangkah kembali ke dalam duniaku.

Saturn!

Reflek kuulurkan tanganku ke arahnya, dan ia menyambutnya dengan senyum.

“Yang tak pernah pergi…”

Aku memandang Saturn tanpa ada keinginan yang dulu pernah membius kewarasanku. Keinginan untuk mengorbit padanya tanpa tahu di mana posisiku dalam lingkaran cincinnya yang penuh dengan pecinta. Keinginan itu telah hilang. Kini yang kurasakan, mungkin lebih mirip mimpi. Mimpi lama yang tiba-tiba muncul dan tak mungkin lagi bisa menyakitiku, karena kini aku lebih kuat.

Saturn memandangku dengan emosi yang tak pernah bisa benar-benar kubaca. Mungkin karena ada sepasang lensa yang membingkai matanya, cermin perasaan itu. Tak sekali dalam fantasi usangku, aku merayap ke atas pangkuannya dan perlahan melepas benda itu dari wajahnya. Tentunya dengan keberanian yang kumiliki pada saat itu, sekalian saja kusampaikan surat cinta bulukan berisi sejuta sanjungan dan firasatku padanya. Tapi yah, 90% wanita dalam usiaku saat itu adalah manusia bego tidak percaya diri dan juga terlalu santun. Aku selamanya tak akan pernah mengerti perasaan lain yang pernah ia punya untukku sampai ia benar-benar menunjukkannya sendiri padaku. Memelukku misalnya. Menciumku mungkin. Namun seandainya rasa itu memang ada, ia tak akan pernah melakukannya, kurasa. Kulihat ia telah bahagia.

Entah apa motivasinya kalau begitu. Membimbingku menapaki tangga-tangga panggung dunia, seperti kakak membimbing adik kecilnya yang penurut. Mengiringiku menyanyikan lagu-lagu lama yang tak lagi menghipnotisku seperti dulu. Lagu-lagu yang hanya membuatku terkenang bahwa dalam keluguanku di masa itu, dalam ketidaktahuanku, dalam ketulusanku, aku pernah merasa sangat bahagia karena dia.

Kenapa kau selalu datang dan datang lagi

Dengan kebaikan

Yang selalu membuat aku:

Kembali padamu?

Ah, bullshit. Kita lihat saja nanti ujungnya. Apa yang kau mau dariku Saturn? Asal kau tau rasaku yang dulu telah kebas. Andaipun kita berdua terjerat dalam api maka aku tak yakin aku akan ikut terbakar.

Baiklah, kalau begitu tak perlu khawatir. Nikmati saja berkah ini. Mungkin saja ia malaikat tak bersayap yang tak menjanjikanmu mimpi muluk berbintang pandora. Kau rasakan saja kehidupanmu kembali berdaya.

Ia mungkin memandangiku selama aku mencoba melenakan pendengar di hadapanku. Aku menangkap segaris senyum kecilnya saat aku menoleh cepat ke arah belakang. Aku menyerap pesan matanya yang mengerjap mantap menguatkan hatiku seolah berkata,

…kau lihat Moon-ku yang sendu, jalan yang tak pernah kautapak karena tak ada yang menunjukkanmu padanya. Kau lihat bintang-bintang itu hanya diam dalam sinarnya, sementara kau di sini melukis cahaya…

“…”

Di sini akhirnya kami bertemu. Saturn, aku, dan Jupiter. Tepatnya Saturn dan aku, lalu Jupiter, berkehendak akan satu serbuk meteor yang sama.

Walaupun Jupiter mencoba bersikap biasa-biasa saja pada Saturn, tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa jijiknya padaku. Pandangan menusuk dan cibirannya, benar-benar dimaksudkan untuk menteror mentalku.

Aku mencari-cari matanya dan tersenyum pahit. So Batman, di sini juga rupanya tempatmu bermain. Tempat yang kau buat bagaikan hutan misteri bagiku. Kini kau lihat tanganku dalam genggaman Saturn menyibakkan padang meteor yang ternyata cukup banyak untuk dipetik oleh kita semua. Well, tapi untuk yang satu ini kita lihat saja akan pulang dalam keranjang siapa.

Dengan berlagak santai Jupiter tetap tampak berusaha menunjukkan bahwa ialah yang terbaik di antara para penjual nada ini. Lagaknya benar-benar membuatku mual. Sementara Saturn tetap dengan gayanya yang menginjak tanah. Walaupun ia merasakan aura persaingan yang tebal dari Jupiter, tapi Saturn telah mempersiapkan mentalku untuk menerima hal terburuk. Jupiter memang masih lebih dalam segala hal. Aku dan Saturn saling memandang dan mengerti bahwa perjalanan kami kali ini mungkin tidak akan membawa pulang apapun.

Akhirnya pada saat yang telah dijanjikan, sang pemilik padang meteor menyampaikan kabar keputusannya. Aku bisa membayangkan wajah Jupiter yang hampir terbelah oleh seringai lebarnya.

Aku sedikit mensyukuri hal itu karena kupikir betapa tergoresnya ego sang Jupiter bila sampai kalah dari duet mini mantan juniornya ini.

Hih, kenapa juga aku masih memikirkan perasaannya?

Go to hell Jupiter, and take all of that shits with you!

To be continued

Jupiter and I

Saturday, January 17th, 2009

Shut up

Shut your mouth

Stop it now

Yes you burn

But not your soul

So shut it down

Now!

But I aint angel… I’m Moon…

“Are you worth it?”

Aku menatapnya lembut.

Aku merasa ia mulai menarik diri.

Apakah ia melihat aku sebagai sosok yang berbeda hari ini? Dengan sikap jinakku, buku New Moon di tanganku, dan green tea latte di depanku yang membuat selera minum kopinya menguap. Dia bahkan tak memberitahuku akan serbuk hijau yang menempel di bibirku sampai aku menyadarinya sendiri di cermin toilet plaza.

Atau justru pada hari inilah ia melihatku sebagai sosokku yang sebenarnya? Entah ia dengan jelas menyadarinya atau tidak, wanita-wanita yang pernah masuk dalam hidupnya selalu berambut kriting ikal seperti aku saat ini. Mungkin setahun terakhir ini aku tampak mirip dengan salah satu dari mereka dalam setelan kaos jeansku. Namun hari ini aku mengenakan busana bergaya Indian yang kalem. Berwarna hijau lumut dengan pita tali berhias bulu burung di kedua ujungnya. Tidak spesial untuknya memang. Hari ini dingin dan baju ini tebal. Dan aku sedang ingin memadankannya dengan sepasang tas dan sepatu suede coklat tua. Kalau rambutku masih panjang, aku akan membuat dua jalinan.

Ia melihatku seperti Edward Cullen melihat Bella berpakaian ala kaum werewolf yang amat dibencinya. Namun ia menahan diri dan melanjutkan niatnya menemuiku untuk mendapatkan informasi mengenai runtutan proses castingku dengan orang-orang pencari bakat itu. Dia tampak kecewa saat kukatakan aku tak tahu pasti pendapat mereka atas demo-demo laguku yang kebanyakan adalah hasil ciptaannya.

Lalu di sepanjang sisa pertemuan ia membalas dengan membuatku menahan mual mendengarkan idealismenya yang perfeksionis tidak kenal tawar menawar dengan kenyataan.

Kami tahu kami tak ingin bertemu lagi dalam waktu yang terlalu dekat.

“Friend? Or… whatever”

Sejak awal aku menyadari kalau aku hanya akan membuang-buang energiku untuk lebih jauh memikirkan Jupiter. Kedua sahabatku tak pernah merekomendasikannya selain untuk kumanfaatkan sebagai guru bermusikku.

Tapi aku tahu dia bukan orang bodoh. Intuisiku menangkap hasratnya dan telingaku mendengarkan keinginannya atas tubuhku. Namun ia tidak ingin mendapatkannya dengan mudah. Aku harus bermain dulu dengannya.

Saat memulainya aku jauh lebih percaya diri akan dapat melindungi diriku dari jebakan-jebakan kecilnya. Rasanya kali ini akan lebih sulit, setelah malam itu ia begitu baik dan sabar denganku. Hadir di saat aku telah tak menginginkan bantuan. Semalaman menjadi kacung editorku mempersiapkan potongan-potongan musik dan lagu untuk demo tape-ku. Apapun motivasinya saat membantuku, aku tak bisa mengingkari hatiku untuk mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Terlalu naif untuk menganggap ia membantuku karena ia sedang ingin baik. Aku mungkin telah mengantarkan diri pada sebuah perangkap raksasa. Ah, tentu saja laba-laba akan bersikap santai saat mendekat pada korban yang telah tersangkut pada jaringnya. Namun aku pun bukan lalat sembarangan. Sikap nyamanku malah membuatku menjadi hidangan yang tak lagi menarik baginya. Hal ini akan membuatku aman hingga ia menendangku keluar dari sarangnya karena bosan. Lalu aku akan memulai lagi dari awal. Menari dan mengibaskan sayap kecilku di sekitar sarangnya dan membuatnya kembali mengundangku.

Begitulah rencananya.

“What if…”

Aku sedang merasa sakit dan menyembunyikan diriku di balik gerhana. Aku marah pada Bumi karena telah membuatku percaya dapat menjadi bintang di saat yang begitu singkat dan di saat yang menurutku tidak tepat. Ketika segala intuisiku negatifku akhirnya terbukti ia malah membelakangiku dan membiarkanku menikmati kegetiranku sendirian.

Di balik selimut aku melirik jagat raya yang seolah menanti untuk mulai menertawakanku. Saat ini sungguh aku sangat… sangat membenci Bumi. Jupiter adalah hal manis terakhir yang kuingat sebeum semua kepahitan ini dan aku ingin bermain dengannya.

Tapi Jupiter tengah diam dalam guanya. Setelah pertemuan terakhir kami kemarin terinspirasi menjadi bintang jugakah ia? Masihkah ia ingin tahu akan kesialanku? Atau ia tengah mempersiapkan panggung raksasa yang selalu menjadi obsesinya dan juga berbonus janji dariku untuk membiarkannya menemaniku tidur bila ia berhasil.

Yeah, aku memang menantangnya untuk itu. Walaupun ia protes akan memakan waktu yang lama untuk mewujudkannya. Waktu yang cukup lama untuknya menemukan bulannya sendiri tentu (dan melupakan semua fantasinya denganku) pikirku, and of course waktu yang cukup untukku mengeruk ilmu darinya dengan rasa aman yang lebih terjamin.

Tapi sepertinya… saat ini Jupiter justru menghindariku. Walaupun aku bisa merasakan keberadaanku di dalam kepalanya, ia menahan dirinya oleh suatu sebab. Aku hanya berharap ia mulai menyayangiku dan memang tak ingin aku melunak.

Bagaikan tokoh hero Ironman yang menyelubungi tubuhku dengan besi, dan bagaikan Batman yang tinggal di dalam gua rahasianya, kami memiliki alasan masing-masing untuk melindungi diri kami. Bedanya aku telah terlanjur menginjakkan kakiku di sana, di dalam guanya. Walaupun aku tahu ia merasa tertantang untuk dapat membuka selubung besiku, tapi ia tak pernah ingin aku membukanya sendiri dengan sukarela. Bila ia juga tahu aku tengah membenci Bumi, maka ia akan memalingkan wajahnya dariku selamanya.

Tak ada tantangan = tak ada roman. Dan aku tahu ia memang tak pernah berniat membangun gua untuk dua orang. Tidak sampai kapanpun.

Tapi itu tak menjadi masalah karena aku sedang ingin bermain dengannya. Aku tak tahu apakah kutukan para malaikat dapat menghentikanku melakukannya.

Moon calling Jupiter… Iron(wo)man calling Batman…

“And if I choose you…”

Untuk kesekian kalinya impian menguji daya tahanku. Walau aku telah penuh luka bahkan tengah merasa perih, hasrat itu masih saja ada di sana. Seperti kutukan yang telah menemukan wilayah nyaman dalam empeduku dan tak henti meracuni setiap bulir darahku dengan impian gemintang. Justru di saat tengah terluka seperti ini, virus itu mengasap ganas mengaburkan pandangan mata dan kewarasan nalarku yang sejak awal memang sudah tidak normal.

Dan aku tahu bukan aku saja terkontaminasi virus itu sejak lama.

Bagaimana Jupiter akan menolakku, seorang perempuan yang cukup manis untuk teman mabuk bersama dan punya daya kekebalan tinggi meladeni bualannya yang sebesar tubuhnya itu.

Aku mengambil gitar dan menyanyikan sepotong lagu Olivia di depan gua cyber-nya…

Hey have you ever tried

Really reaching out for the other side?

I may be climbing on rainbows

But, baby here goes

Life can be short or long

Love can be right or wrong

And if I choose the one I like to help me through

I’dlike to make with you

I really think that we can make it boy

Baby you know that..

Silakan menertawakan fantasiku Jupiter, tapi ini adalah proposal. Proposalku untuk mengorbit padamu dan apapun keuntungan yang mungkin kau peroleh selama aku bermain di sarangmu.

I’d let my self burn, burn through my soul… if you’re lucky.

I wont be easy. I promise.

To be continued