Jupiter and I - part 3 - end
Wednesday, January 21st, 2009
“Say it out loud! Or …No?”
Aku tengah melangkah mencari udara, saat sebuah siluet yang besar menutupi pemandanganku.
Jupiter! Seruku kaget.
Moon, aku tengah merancang sayap untukmu meraih bintang, dan kau mengais-ngais padang tempatku mencari makan. Bersama Saturn! Apa yang kau pikirkan? Tuntut Jupiter sangar.
Mana kutahu yang kau lakukan kecuali bahwa kau tak menjawab proposalku? Elakku kesal. Lagipula simpan saja rancanganmu itu. Aku sudah tak percaya pada sayap. Tak ada sayap yang cukup kuat mengangkat tubuhku kecuali ia tumbuh sendiri dari punggungku!
Ia memandangku sepertinya aku ini kurang gizi.
Tak bisa tumbuh sayap kan nyatanya? Apa Bumi tak cukup memberimu makan? Sindirnya kejam.
Apa kau mau memberiku makan? Tantangku tajam.
Well, tentu saja aku mampu, jawabnya tak mau kalah.
Ya ya, kau mampu tapi tak mau! Teriakku. Kau merasa aman pada tempatmu. Dalam guamu. Jadi biarlah begitu. Demikian juga Saturn. Kalian punya tempat kalian masing-masing dalam radarku. Kalau kau memang ingin aku datang kembali ke guamu, jangan batasi aku!
Tidak dengan Saturn! Tolaknya lagi.
Memang tidak. Mau kau jadikan apa dia? Band pengiringmu? Kau tak akan cukup kuat dengan kenyataan yang akan terjadi di atas panggung, ejekku. Oh ya, Jupiter tak perlu kuingatkan akan cincin pecinta yang masih melingkari Saturn hingga saat ini. Begitu juga dengan jumlah satelitnya yang puluhan itu.
Wajah Jupiter memerah. Telinganya terasa panas.
Apa yang kau janjikan padanya? Tidur bersamamu juga? Jupiter balas menghinaku seperti nenek sihir yang terdesak hingga menjatuhkan labu-labu kacanya sendiri. Pecah berhamburan ke lantai. Mengawinkan sembarang larutan hingga menguapkan serbuk warna bercahaya.
Nafasku terasa berat. Aku tak tega Saturn menerima tuduhan serendah itu. Well… entahlah kalau ia memang berniat. Tapi hingga detik ini Saturn masih tercatat sebagai manusia suci generator darurat hidupku saat ini. Aku mengaum pada Jupiter.
Aku muak dengan permainanmu!
Mendadak, sebuah pintu digedor dengan kuat dari arah belakangku.
Aku hampir lupa dengan yang satu ini. Bumi sepertinya mulai kehabisan kesabarannya.
Aku memandang pintu itu dan Jupiter bergantian.
Masalah utamamu bukan Saturn, ingatku padanya.
Kembali kutantang Jupiter dengan mataku.
Ask me to lock that door, pintaku padanya.
Jupiter seolah kehilangan semua kejantanannya yang belum lama ia acung-acungkan padaku. Ia hanya diam tak bergerak.
Sudah kukira kau hanya mengincar tempat kedua, celaku kejam. Selamanya kau tak akan bisa berubah…
Aku tak mau kamu berubah menjadi Io yang merah dan pencemburu, akunya lirih.
Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang Bumi-ku, yang baru? Tantangku lagi dan lagi.
Jupiter tersedak. Jawaban yang sangat jelas.
Jadi kau mau aku tetap seperti ini Jupe? Putih, mungil, berkilau, dan dari kejauhan. Kau menolak untuk berada terlalu lama denganku. Kau tak mau hidup terlalu dekat hingga kau bisa melihat bopeng-bopeng pada wajahku.
Jupiter memegarkan tubuhnya, menolak intimidasi ini.
Aku punya banyak pilihan, ucapnya mencoba berbalik menyakitiku. Tapi aku lebih percaya bahwa dia berbohong. Ia tahu pikiranku saat melihatku menggeleng-geleng lemah putus asa menghadapi keangkuhannya.
Aku sudah memilihmu. Aku melagu di depan guamu. Jangan berharap aku akan melakukannya lagi, ucapku getir.
Moon, kamu sedang terluka waktu itu. Kamu tidak benar-benar menginginkan aku, tegasnya.
Tapi aku tahu apa yang kau inginkan. Sayang, aku tidak menyediakan tester seperti perempuanmu yang lain, cibirku menghina mereka.
Jupiter tampak tersinggung. Aku tidak pernah… denganmu, aku cuma…, ia menghentikan kata-katanya. Hh, forget it…! Desahnya frustasi.
Ah ya, terlalu sakit untuk kudengar bukan begitu? Gumamku. Jadi kau hanya senang bermain-main dengan tali orbitku tapi selamanya tak akan pernah untuk memintaku untuk mengguntingnya. Sound oh so familier. Very very Jupiter.
Ugh, sudahlah Moon. Jangan membutakan dirimu untuk melihatku tidak lagi seperti perspektifmu yang dulu. Dulu kamu selalu menyayangkan kalau saja aku ini Saturn, gerutunya. Terus kamu bilang hanya Bumi yang pada akhirnya memenuhi kriteria surgamu. Bahkan Saturn pun tidak, tudingmu lagi.
Aku terhenyak.
Ya, aku masih ingat itu. Dulu aku selalu memanasinya bahwa Saturn selalu dapat menemaniku tidur tanpa syarat apapun. Dalam kejengkelannya atas penolakanku, Jupiter selalu menantangku untuk benar-benar melakukannya dengan Saturn. Dan aku hanya tertawa sambil melarikan diri, kembali bergelayut manja pada Bumi.
Jadi satu sama dalam hal ini. Aku mulai kehilangan kepercayaan diriku saat mencoba memandang matanya.
Jupiter melunak akan sikap sportifku.
Friend? Tanyanya seraya mengulurkan tangan padaku.
Aku meliriknya dengan sudut mataku. Tampaknya ia bersungguh-sungguh membutuhkannya dariku. Hanya aku yang sanggup meladeni keangkuhannya hingga sejauh ini. Entahlah kalau ia hanya menganggapku sebagai koleksi hidup yang tak ada ruginya dipertahankan.
Lain kali datanglah dari pintu samping, if you miss me…, pintaku sambil menyentuhkan tanganku dan menariknya kembali dengan cepat. Toh ia masih punya rancangan sayap yang ingin kulihat, pikirku.
Tidak masalah, jawabnya. Menyimpan tangannya kembali dalam saku celananya.
Akan selalu ada dua pintu samping, seruku mengingatkannya pada Saturn.
Terserah, jawabnya kembali gusar. Ia berbalik pergi. Jupiter menoleh kembali kepadaku dengan ekspresi kesal, meleletkan lidahnya padaku.
Well, aku sudah merusak permainannya eh?
Aku balik menjulurkan lidahku padanya.
Entah kapan kami akan memberanikan diri untuk bertemu kembali, setelah ini.
“In the end…”
Akhirnya kubuka juga pintu belakang.
Bumi tampak beku, kedinginan, namun tetap mencoba tegar di depanku. Dia tak pernah punya kata-kata khusus untukku, tapi aku tahu ia membutuhkan aku seperti ia membutuhkan matahari. Ia bahkan menganggapku sama besarnya dengan bintang itu. Tapi saat aku ingin menuntutnya, ia akan menyelamatkan dirinya pada rasionalisasi massa benda. Membuatku kecut dan kecewa. Dengan tatapan dingin mengingatkanku betapa besarnya ia. Maaf saja bila aku sempat luput dari perhatiannya. Namun saat aku ingin meledakkan diriku sendiri untuk menghukumnya, ia selalu bisa membuatku merasa iba dan berbalik mengklaim diriku sendiri sebagai penjahatnya.
Kali inipun, ia berhasil membuatku menelan kembali gada-gada beronak yang telah kusiapkan untuk menghajarnya.
Kenapa kau tak mendekat agar bisa memelukku? Komandoku padanya.
Ia menurut.
Lebih erat, pintaku.
Ia memelukku lebih erat lagi hingga aku bisa merasakan seluruh diriku diinginkan kembali.
Jangan pernah membelakangiku lagi, aku merajuk.
Bumi menatapku bingung seolah berkata, aku gak mengerti apa maksudmu. Tapi apapun itu… Bibirnya berucap pasrah, aku akan membelikanmu bunga…
Maaf, sebuah kata yang tak akan keluar dari mulut Bumi kecuali aku mengeluarkan samurai untuk mengancam langsung urat lehernya.
Lain kali akan kujelaskan, kesalahanmu, senyumku masam. Dia bahkan tak sadar telah melukai hatiku belakangan ini. Sialan, batinku.
Aku bergeming dalam pelukannya.
Rindu, bisiknya jujur sambil memelukku lagi.
Aku mencoba membayangkan Jupiter, ataupun Saturn, namun mereka bagaikan bintang-bintang raksasa yang selamanya tak kan pernah dapat kurengkuh. Cukuplah aku merasa puas menjadi bintang mungil yang melompat-lompat ceria sesekali di wilayah orbit mereka. Cukuplah aku dalam rengkuhan Bumiku yang tidak posesif. Cukuplah aku menikmatinya saja.
Kuangkat kedua lenganku dan balas memeluknya.
Aku juga…, ucapku.
Kulepas pelukanku dan kuoper sebilah gitar usang miliknya.
Mainkan, untukku, pintaku manja.
Bumi menurut. Ini adalah salah satu keahliannya yang ia simpan hanya untukku. Cukuplah sebagai pengganti bunga manapun yang mungkin mewakilkan permohonannya padaku untuk tetap tinggal.
Dawai gitarnya mengalunkan irama klasik. Air on the G String. Sungguh ironis, lagu ini adalah soundtrack saat Jupiter membantuku malam itu.
Entah siapa yang besok akan muncul dari pintu samping kiri dan kananku. Selama belum ada yang membukakan pintu depan untukku, siapapun boleh mengiringi nyanyianku. Aku hanya tak ingin, lantai bawahku ikut terbuka karenanya. Di situ bukan tempat bintang berada.
Lagi-lagi aku terhenyak oleh sebuah ilham.
Apakah ini yang disinggung Jupiter dengan kriteria surga-ku?
Hanya saat bersama Bumi, langit biru membentang di atas kepalaku. Straight to the stars. Straight to heaven. Bahkan Saturn pun tak bisa mengantarkanku ke sana.
Aku merebahkan tubuh, tersenyum dalam buaian gitar kekasihku. Namun senandungku bukan untuknya.
Jupiter menyayangiku.
Bila saatnya nanti tanganku terulur padanya tanpa keinginan seperti aku pada Saturn, maka akupun mengerti, tak perlu ada pintu depan itu, pintu guanya, atau apapun.
Tapi…
Kuletakkan jemariku di atas jemari Bumi yang tengah memetik nada. Ia menatapku was-was. Aku menunggu hingga gema terakhir menguap ke angkasa. Kusingkirkan gitar itu dan kupeluk wajahnya.
Cuma aku yang memandangmu sebesar ini, mungkin terlalu besar, bahkan untukku, bisikku.
Tak pernah aku merasa seyakin ini. Aku bahkan tak merasa perlu berkonsultasi dulu pada dua sahabatku karena aku tahu jawabannya hanya akan menjadi sekutu di saat aku memang membutuhkan mereka untuk menginsafkanku. Tapi maaf, kali ini aku tidak menginginkan akhir yang sama untuk kisahku.
Kuhentakkan lantai di bawah kakiku dan kurasakan diriku jatuh terlepas dari pelukan Bumi yang tak mengerti. Langit surga mengarak di atas kepalanya. Melagukan sesal tertahan kepadaku. Ia tetap berdiri di sana pada lantainya, sementara aku semakin jatuh dan jauh darinya hingga aku menghilang dari pandangannya, dan aku melayang. Lalu mengambang. Diam.
Ternyata tak perlu sebuah gunting untuk membebaskan diriku. Tapi memang tak pernah mudah.
Ke mana aku setelah ini hanya beroleh satu jawaban dalam hasratku. Aku merindukannya. Aku ingin bermain dengannya.
Moon calling Jupiter…
“I choosed you…”
Jupiter menjatuhkan apapun yang tengah dipegangnya saat melihatku berdiri di dalam guanya. Dia tak tahu apa yang terjadi padaku tapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Aku terengah-engah dan tersenyum lebar padanya. Belum sempat kuutarakan maksudku matanya menyeretku untuk melihat ke arah sofa kulit di samping meja kerjanya: gadis-gadis berambut kriting ikal yang tengah duduk berderet menghujaniku dengan tatapan cemburu.
Kamu harus mengantri, ucapnya sambil mencedikkan kedua bahunya seolah tak bisa membuat pengecualian untukku.
No problem, jawabku ringan. Persyaratan masih berlaku kok, ingatku padanya.
Tidak akan lama lagi lho, Jupiter menyeringai senang.
Aku akan mengajak Saturn, godaku.
Jupiter menahan nafasnya seketika. Tapi ia memang jagonya tak mau kalah sejagat raya.
That will be interesting, tantangnya. Kamu bisa langsung menunjuk di tempat, Who is the Best!
So we’ll see, jawabku tenang sambil berbalik pergi.
Mau ke mana? Tanyanya cepat. Terlupa untuk menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya.
Entahlah, jawabku jujur. Ke sini dan ke sana mungkin. Jagat ini sangat luas kau tahu…, ejekku menggodanya.
Sebelum ia berseru lagi aku telah melontarkan diriku sejauh mungkin. Aku tahu gelak tawaku yang tertinggal di ujung kupingnya akan menggelitiknya sepanjang malam ini.
Tidak, aku tidak akan pernah menalikan orbitku pada guanya yang murung itu. Aku sadar sifat posesifku. Satu-satunya kemungkinan ia bisa memilikiku hanya bila ia bersedia menjadi Bumiku yang baru.
Hm, terlalu berambisi mungkin. Tapi bila tidak, menjadi komet lepas bukan pilihan yang buruk kurasa. Aku percaya akan kembali menemukan langit surgaku sendiri. Tak perlu sosok raksasa manapun untuk membawaku padanya.
Akupun melesat. Kubiarkan malaikat mengutuk cemburu karena mereka terikat pada sayap-sayap mereka, sedangkan aku tidak. Well, I aint angel, I’m Moon…
Now you can talk
Now you can smile
Sing
And kiss
Yes, if you’re lucky
To hit and run
And feel free..
That’s all fella! Have a nice day!
aL, January 2009