Archive for April, 2008

OKan’s Business part 1

Tuesday, April 15th, 2008

Belakangan ini hujan rutin mengguyur kota Bandung setelah
lewat jam makan siang. Saya sih gak takut dengan air yang datang dari atas. Yang
saya hindari justru yang datang dari bawah. Siapa sudi merendam kaki dalam air
keruh sarat kutu air dan lumpur lekat nan sentimen mengancam putusnya tali
sendal kulitku? 

 

So, usai menukar sendal baru Okan yang kekecilan di Yogya
Kepatihan, sayapun bergegas naik angkot jurusan Kalapa-Buahbatu menuju Bandung selatan.

 

Langit mulai mendung, namun payung pink berry ¥500 dalam
tasku berkomplot dengan nafsu baca membaca buku. Saya terbujuk mampir menyebrang
ke pasar buku murah Palasari.

 

Secara gak sengaja, saya telah dengan sadis menawar harga
buku Laskar Pelangi hingga setengahnya. Belakangan saya baru tahu harga aslinya
di toko buku. Maaf ya aa’ penjual buku (pantesan senyumannya tampak begitu
miris saat transaksi). Tapi kan saya udah janji akan beli sequelnya di situ kalo buku pertamanya bagus
(tetralogy pula, wah siap-siap bangkrut :p). And I think I will ;)

 

Saya pun berjalan kaki menuju area sekolah Gagas Ceria di
jalan Malabar.

Gedungnya masih berwarna monokrom kuning sama seperti
guratan pensil warna saya di kopian lembar tampak eksteriornya, sepuluh tahun
yang lalu. Saya sudah lama tau bahwa rumah-rumah tetangga juga telah
diakuisisi, bahkan pabrik hantu di seberang jalan sudah menjelma menjadi
bangunan SD yang modern dan dipenuhi murid2 berseragam putih merah.

Saya masih ingat saat Kak Santi dan Mbak Iyos berbusa-busa
meladeni pertanyaan para orangtua dan kakek-nenek calon murid angkatan pertama.
Pemandangan di depan saya saat ini bikin saya angkat topi untuk mereka. Segala
yang bertujuan baik akan didukung oleh semesta. Indonesia haus akan pendidikan
berkualitas.

 

Kebetulan saat kedatangan saya bersamaan dgn jam bubaran
kelas playgroup. Sayapun tersadar utk kembali melangsungkan niat saya
menjambangi tempat itu.

Walau tanpa janji sebelumnya, tanpa kesulitan reuni saya dan
sahabat2 peng-Gagas Ceria berlangsung, diiringi deras hujan yg pecah di luar
bangunan SD.

 

Berangkat dari info saya mengenai keterlambatan OKan
berbahasa, Kak Santi mengantarkan saya membuat janji dengan seorang dokter
ahli tumbuh kembang di yayasan Indigrow yang menjadi rekanan GC.

 

Gedungnya menempel di belakang bangunan TK GC, berwarna
selaras kuning monokrom. Saya jadi teringat saat sang arsitek memprotes pilihan
warna saya. Katanya tidak sesuai dengan konsep desain ‘hommy’ pada umumnya.

Well, menimbang lokasi perumahan yang adem dan rimbun
pepohonan, saya hanya berpendapat gedung ini membutuhkan sentuhan warna yang
eye catching, yang memberi info kilat pada kendaraan lewat bahwa ini adalah sebuah
tempat bagi anak-anak yang playfull, ceria, ramah, dan bukanlah sebuah
rumah hunian. Desain bangunannya yang cantik, gak perlu diganggu lagi dengan
gambar-gambar kartun atau binatang seperti taman bermain pada umumnya. Terlalu
banyak warna primer hanya akan memberi kesan komersil yang membuat enggan. So,
kuning monokrom is the best solution. Client pun mengangguk pada pikiran seorang
mahasiswi interior ketimbang arstitek profesional tersebut.

 

Sambil berjingkat menghindari sisa-sisa hujan, Kak Santi bercerita
bahwa sampai saat ini mereka sering menerima kunjungan dari para arsitek yang
berkomentar, “Ini adalah bangunan berkonsep anak-anak, yang tidak
kekanak-kanakan.”

Bagi saya pribadi, mengetahui kenyataan bahwa warna tersebut
tetap dipertahankan hingga 10 tahun berlalu, sudah cukup membuat dada ini
bungah.

 

Dokter yang bersangkutan ternyata sedang hanamian ke Tokyo. How ironic gak
seehh?? Apalagi antrian pasien ternyata cukup panjang di buku jadwal sang
dokter. Tanggal 6 Mei terlalu lama bagi saya untuk menunda mengetahui kondisi
tumbuh kembang OKan dari observasi langsung ahlinya. So, saya sebaiknya segera
mencari alternatif lain.

 

Hujan yang tak lagi mengancam dan jalur angkot yang kebetulan
lagi-lagi membuat saya singgah dulu di toko cheesecake favoritku. Rum raisin
cheesecake dan chocolate lava cheesecake pun masuk kantong keresek.

Perjalanan lanjut ke bank saya di jalan Riau guna
mengupgrade buku tabungan yang udah abis titip diprintin bokap. Lalu perut yang
menderita membuat saya dengan senang hati mampir melahap nasi gulai usus di
restoran padang langganan dulu waktu masih berkantor di belakang Polresta Bandung Tengah.

Dipikir-pikir, kok hari ini lebih banyak menyangkut urusan
saya daripada OKan yak, kekeke…

 

 

To be or not to be…

(to be continued maksudnya ;p)

 

 

 

Bandung, 7 April 2008