Archive for February, 2008

I want to go

Wednesday, February 20th, 2008

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Mendadak kepala saya berdenging. Rengekan si oKan yg gak mau
ditinggal bapaknya berlanjut dgn jeritan2 dari dalam kamar mandi. Konsentrasi saya
buyar sudah. Script novel-yg-rencananya-akan-saya-bikin-animaticnya dan kelak-filmnya-akan-saya-sutradarai-sendiri-itu
baru sampai satu halaman. Langsung saya usir laki-laki itu pergi dan meneruskan
ritual memandikan si kecil dgn cara yg dia suka.

 

May be an island,
island

Blue sky and sea

On an island – island –
island…

May be…

 

Di luar tampak cerah, meskipun dingin. Mood utk kembali ke
buku corat-coret saya tadi terkapar luka. Segenap kemampuan zen saya kerahkan
utk kembali menstabilkan genangan aura yg mudah terciduk ini.

 

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Lihat, si oKan sudah tenang, wangi, dan cakep. Saya ingin
mengajaknya mandi matahari, ya, meskipun dingin. Tapi hari ini Shonandai
terlalu sempit buat saya.

 

May be a mountain,
mountain

White snow and trees

On a mountain –
mountain – mountain…

May be…

 

Kaos kaki penguin oranye si kecil menginjak kursi densya dan tubuhnya merapat ke jendela. Wajahnya tampak senang menyisiri pemandangan sepanjang Sotetsu Line. Yup, Yokohama, here we come!

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Roda baby car oKan mengesot di lantai gedung stasiun Yokohama.
Join Us!, Takashimaya, West exit area. Kami lunch dgn shrimp-mayo-nya Kono
Pizza (pizza cone) dan donat macha-nya Doughnout Plant. Ya, kali ini bukan
spagheti, paela, udon, tempura dan sejenisnya.

Habis refill, si pangeran kecilpun kembali bertahta di atas kereta kencananya yg mulai sempit.
Naluri mengarahkan saya ke East exit, Vervex, lalu menyebrang ke tunnel Diamond menuju Hiyodobashi.

 

May be a ROCKET,
ROCKET

Bright moon and stars

On a rocket – rocket –
rocket…

Maybe…

 

Matahari menyingkir sudah. Kaki ini sudah lelah. oKan sudah lama
gelisah. Tapi saya gak ingin pulang. Saya sedang gak ingin pulang. Hati saya
melarang. Pikiran saya yang mengalah. Belum masak. Duit abis. Tambah dingin. Hak
sepatu boot saya pun melangkah. Naik densya Yamato, transfer ke densya
Shonandai di Futamatagawa. Pulang.

 

All around the world,
there are places I want to go…

All around the world,
there are people I want to know…

 

Saya gak ingin pulang. Tidak ke tempat itu lagi. Lihat,
tempat itu semakin dekat. Tapi saya kan sedang gak ingin pulang? Diamlah, dasar cengeng.

 

I want to go…

 

Laki-laki itu sudah lebih dulu sampai di tempat itu. Dia sedang
menutup rolling door jendela. Saya serahkan si oKan padanya. Juga tas belanjaan
berisi sweater wool dan air protection jacket barunya. Ya, kali ini bukan utk
saya maupun si kecil.

 

I want to go…

 

Saya biarkan laki-laki itu makan dengan sisa lauk semalam. Saya
celupkan tubuh saya ke ofuro hangat bercampur serbuk wangi midori. Saya pijati
betis-betis saya. Saya pejamkan mata saya. Lama.

 

I want to go…


Somewhere…

 

 

 

Shonandai, 18 Feb 2008

Text song was taken from ‘Eigo
de asobo’ NHK television program for children

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hanya menumpang

Monday, February 4th, 2008

Ketika kita memikirkan anak kita, maka kita gak bisa hanya
berpikir tentang dia. Bagaimana dgn teman-temannya? Gurunya? Lingkungannya? Masa
depannya?

 

Ketika kita mulai berpikir tentang dunia, manusia, maka kita
selalu dikembalikan pada asal muasal kita. Dari negara mana? Bangsa mana?
Pernah makan roti?

 

Setahun saya tinggal di negeri orang. Negara maju yg
memiliki segalanya.

Setahun menikmati fasilitas yg mempermudah hidup
sehari-hari.

Monorel on time, fending machine, lift dan eskalator di tiap
stasiun, toilet umum bersih yg gak bayar lagi dan selalu bertisu.

Keamanan 24 jam, kebebasan berpenampilan tanpa intaian
kriminil ataupun suitan pengangguran di jalanan.

Akses informasi ter-update, sign system yg ramah, dan segala
urusan surat2 ijin tanpa pungli. Bahkan warga asing turut menerima dana
tunjangan hidup utk anak.

 

Betapa praktisnya. Sungguh nyaman.

Tapi saya hanya menumpang.

 

Pemerintah Jepang sudah melapangkan trotoar dan
menyingkirkan segala kerikil2 dlm perjalanan warganya menuju tempat bekerja dan
beraktivitas.

Silakan berpikir tentang hal2 penting saja. Leptop setipis
amplop, mobil listrik, robot pelayan, tomat rasa coklat, dan baling2 bambu.

 

Negara sudah membuat aturan struktur bangunan utk rumah dan
gedung anti gempa.

Ayo, tinggalkan rumah dan pergilah shopping ke pertokoan. Belilah
perabotan mahal agar tak mudah rusak dan kalian tak perlu sering2 keluar uang
utk membuangnya. Pilihlah pakaian tercantik yg kalian suka. Be kawaii as hell.

Tenang, kita gak
memboroskan sumber daya alam kok. Toh sisanya kita lempar ke pasar asia tenggara.

 

Jangan lupa, boronglah komik juga, main ke pachinko, dan
minum2 ke bar.

Maaf, memang harga2 di sini sedikit mahal, tapi petani dan
nelayan kita gak ada yg miskin.

Dengan berbelanja dan menikmati hidup, kita berbuat baik,
karena roda perekonomian negara kita dan jg dunia akan terus berputar. Pajak
mengalir ke kas negara kita.

Nanti sebagian kita sumbang utk pendidikan anak2 sekolah negara miskin yg menyanyikan lagu potong bebek angsa itu.

Nanti kita bangun jalur2 monorel lg ke sini dan ke sana. Para pengusaha property bersiaplah utk membangun mansyon2 dan mall2 baru di stasiun2
baru.

 

Betapa optimisnya. Begitu bergairah.

Dan sy ini sekali lg, hanya menumpang.

 

Semua faslitas ini, semua kenyamanan ini, dibuat pemerintah
Jepang ya utk warganya. Untuk orang Jepang. Untuk anak2 Jepang. Mereka yg hapal
huruf kanji Jepang dan menghormat saat bendera Jepang dikibarkan.

 

Saya heran, negara sekecil pulau Jawa ini, begitu banyak
mengimport TKI dari negara sy. Sementara di Jawa sendiri msh buanyak sekali
pengangguran.

 

Bila tiba saatnya Jepang gak lg membutuhkan TKI dan malah
membanjiri dunia dgn robot2 manusianya, sy ngeri membayangkan bencana
pengangguran di negara sy di masa yg akan datang.

Lalu anak sy, si oKan, harus ikut bersikut-sikutan di antara
mereka.

Maklum sy bukan dari kalangan bisnisman tajir atau keluarga
pejabat berkoneksi yg bisa menjamin keturunan sy mendapat pekerjaan impiannya.

 

Namun kalau kita semua berpikir putra2 bangsa yg pintar
selalu punya tempat di luar negeri, lalu apa jadinya negara saya?

 

Kenapa sih kita gak bikin aja hujan emas di negri sendiri?

Gimana caranya biar sy jg bisa merasakan kenyamanan yg sama
di negara saya?

 

Kan gak enak numpang terus. Malu!

 

 

 

Shonandai, Februari 2008