Bang-saku Sayang - Part II
Sunday, December 9th, 2007Kalau qita tanya sama diri sendiri, apa yg dia posting di situ
benar adanya?
Yang jelas saat membacanya, dada gw lebih sesak oleh rasa
sedih drpd rasa marah.
Semua keburukan bangsa kita bila disatukan jadi seperti blog
itukah?
Kenapa dia memasang foto bung Karno segala di situ? apa
karena saat ini jejak yg ditinggalkan Presiden RI pertama itu yg lebih disukai
public bukan lagi ttg ide beliau ttg bangsa kita sbg sebuah bangsa terhomat yg
pernah ada, melainkan sense of beauty sang janda yg malah jd bulan2an generasi muda?
Kenapa dia getol menggunakan istilah indon dan bukannya Indonesia?
Mungkin karena kata-kata Indonesia
terlalu agung untuk disebut-sebut saat membicarakan kejelekan2nya. Terasa
terlalu menyayat.
Sama seperti saat kita memberi nama2 kecil utk anak2 kita. Untuk
panggilan sehari-hari. Saat dia baong, saat dia lg norak2nya. Nama asli anak kita yg keren itu hanya digunakan utk
sesuatu yg lebih resmi. Surat warisan misalnya {;)
Dan nama Indonesia,
hanya pantas ditampilkan di depan public saat seorang anak bangsa baru saja
meraih satu prestasi di pentas internasional, dgn bendera merah putih yg
berkibar sebagai latarnya.
So, gw setuju2 aja istilah indon digunakan di blog itu.
Saat tinggal di negeri orang (terutama yg masih sama-sama Asia ya), temen-temen sekampung gw mengaku merasakan ‘lirikan mata’
itu dari penduduk setempat. Belum ngaku orang Indonesia, belum ngaku muslim.
(hehe, gw sendiri gak gitu ngerasa, mungkin krn gw bebal
atau tampang gw agak2 ‘nyaru’ dgn penduduk setempat :p spt serigala berbulu panda).
Naif aja rasanya kalo cuma bisa membela diri sendiri, atau
mencoba berpanjang lebar menjelaskan bahwa kita gak seperti ‘gosip
internasional’ itu lho. Lha wong gak ada yg nanya ini (namanya aja dicuekin).
Lagipula kalo tiba2 ada perintah ‘Ganyang Malaysia’ lagi dari pemerintah, bukan kaum
‘terpelajar’ asal Indonesia yg akan menyerbu markas-markas mereka di sana,
melainkan ribuan TKI itu.
Sementara sang oknum kriminil sih boro-boro mikirin dia
berasal dr negara mana. Mungkin kalo Indonesia perang sama Malaysia, doi
malah enak-enakan buka usaha baru di Thailand, hehe.
Makanya, kalo ada kriminil asal Indonesia yg tertangkap di Malaysia,
gak usah dipulangkan ke keluarganya, kita tenggelamin aja di laut Selatan sana buat ngeganjel
tsunami.
Well, mungkin selama ini kita terlalu permisif saat melihat
keburukan kita sendiri. Namun, sang blogger menyodorkan kacamata ‘Malaysia’ untuk menilai bangsa Indonesia
sebagai sebuah bangsa cantik (multiras! Bayangkan!) yg gak bisa mengurus
dirinya sendiri, sehingga kedodoran, dan anak-anaknya berbuat slebor di halaman
tetangga.
(Hm hm… yg berprestasi aja masih suka dicuekin, palagi yg slebor?)
So, kenapa doi begitu benci? Bukankah krn sangat cinta?
(maaf, gw memposisikan diri sbg pembela dgn asumsi 90% gw
bahwa si blogger adalah org Indonesia jg, hehe. tapi kalo doi ternyata orang
GAM, hm… no comment deh).
Hm… bersambung gak ya… banyak kerjaan neh :<