Jupiter and I - part 3 - end

January 21st, 2009 by cute-cocoon

“Say it out loud! Or …No?”

Aku tengah melangkah mencari udara, saat sebuah siluet yang besar menutupi pemandanganku.

Jupiter! Seruku kaget.

Moon, aku tengah merancang sayap untukmu meraih bintang, dan kau mengais-ngais padang tempatku mencari makan. Bersama Saturn! Apa yang kau pikirkan? Tuntut Jupiter sangar.

Mana kutahu yang kau lakukan kecuali bahwa kau tak menjawab proposalku? Elakku kesal. Lagipula simpan saja rancanganmu itu. Aku sudah tak percaya pada sayap. Tak ada sayap yang cukup kuat mengangkat tubuhku kecuali ia tumbuh sendiri dari punggungku!

Ia memandangku sepertinya aku ini kurang gizi.

Tak bisa tumbuh sayap kan nyatanya? Apa Bumi tak cukup memberimu makan? Sindirnya kejam.

Apa kau mau memberiku makan? Tantangku tajam.

Well, tentu saja aku mampu, jawabnya tak mau kalah.

Ya ya, kau mampu tapi tak mau! Teriakku. Kau merasa aman pada tempatmu. Dalam guamu. Jadi biarlah begitu. Demikian juga Saturn. Kalian punya tempat kalian masing-masing dalam radarku. Kalau kau memang ingin aku datang kembali ke guamu, jangan batasi aku!

Tidak dengan Saturn! Tolaknya lagi.

Memang tidak. Mau kau jadikan apa dia? Band pengiringmu? Kau tak akan cukup kuat dengan kenyataan yang akan terjadi di atas panggung, ejekku. Oh ya, Jupiter tak perlu kuingatkan akan cincin pecinta yang masih melingkari Saturn hingga saat ini. Begitu juga dengan jumlah satelitnya yang puluhan itu.

Wajah Jupiter memerah. Telinganya terasa panas.

Apa yang kau janjikan padanya? Tidur bersamamu juga? Jupiter balas menghinaku seperti nenek sihir yang terdesak hingga menjatuhkan labu-labu kacanya sendiri. Pecah berhamburan ke lantai. Mengawinkan sembarang larutan hingga menguapkan serbuk warna bercahaya.

Nafasku terasa berat. Aku tak tega Saturn menerima tuduhan serendah itu. Well… entahlah kalau ia memang berniat. Tapi hingga detik ini Saturn masih tercatat sebagai manusia suci generator darurat hidupku saat ini. Aku mengaum pada Jupiter.

Aku muak dengan permainanmu!

Mendadak, sebuah pintu digedor dengan kuat dari arah belakangku.

Aku hampir lupa dengan yang satu ini. Bumi sepertinya mulai kehabisan kesabarannya.

Aku memandang pintu itu dan Jupiter bergantian.

Masalah utamamu bukan Saturn, ingatku padanya.

Kembali kutantang Jupiter dengan mataku.

Ask me to lock that door, pintaku padanya.

Jupiter seolah kehilangan semua kejantanannya yang belum lama ia acung-acungkan padaku. Ia hanya diam tak bergerak.

Sudah kukira kau hanya mengincar tempat kedua, celaku kejam. Selamanya kau tak akan bisa berubah…

Aku tak mau kamu berubah menjadi Io yang merah dan pencemburu, akunya lirih.

Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang Bumi-ku, yang baru? Tantangku lagi dan lagi.

Jupiter tersedak. Jawaban yang sangat jelas.

Jadi kau mau aku tetap seperti ini Jupe? Putih, mungil, berkilau, dan dari kejauhan. Kau menolak untuk berada terlalu lama denganku. Kau tak mau hidup terlalu dekat hingga kau bisa melihat bopeng-bopeng pada wajahku.

Jupiter memegarkan tubuhnya, menolak intimidasi ini.

Aku punya banyak pilihan, ucapnya mencoba berbalik menyakitiku. Tapi aku lebih percaya bahwa dia berbohong. Ia tahu pikiranku saat melihatku menggeleng-geleng lemah putus asa menghadapi keangkuhannya.

Aku sudah memilihmu. Aku melagu di depan guamu. Jangan berharap aku akan melakukannya lagi, ucapku getir.

Moon, kamu sedang terluka waktu itu. Kamu tidak benar-benar menginginkan aku, tegasnya.

Tapi aku tahu apa yang kau inginkan. Sayang, aku tidak menyediakan tester seperti perempuanmu yang lain, cibirku menghina mereka.

Jupiter tampak tersinggung. Aku tidak pernah… denganmu, aku cuma…, ia menghentikan kata-katanya. Hh, forget it…! Desahnya frustasi.

Ah ya, terlalu sakit untuk kudengar bukan begitu? Gumamku. Jadi kau hanya senang bermain-main dengan tali orbitku tapi selamanya tak akan pernah untuk memintaku untuk mengguntingnya. Sound oh so familier. Very very Jupiter.

Ugh, sudahlah Moon. Jangan membutakan dirimu untuk melihatku tidak lagi seperti perspektifmu yang dulu. Dulu kamu selalu menyayangkan kalau saja aku ini Saturn, gerutunya. Terus kamu bilang hanya Bumi yang pada akhirnya memenuhi kriteria surgamu. Bahkan Saturn pun tidak, tudingmu lagi.

Aku terhenyak.

Ya, aku masih ingat itu. Dulu aku selalu memanasinya bahwa Saturn selalu dapat menemaniku tidur tanpa syarat apapun. Dalam kejengkelannya atas penolakanku, Jupiter selalu menantangku untuk benar-benar melakukannya dengan Saturn. Dan aku hanya tertawa sambil melarikan diri, kembali bergelayut manja pada Bumi.

Jadi satu sama dalam hal ini. Aku mulai kehilangan kepercayaan diriku saat mencoba memandang matanya.

Jupiter melunak akan sikap sportifku.

Friend? Tanyanya seraya mengulurkan tangan padaku.

Aku meliriknya dengan sudut mataku. Tampaknya ia bersungguh-sungguh membutuhkannya dariku. Hanya aku yang sanggup meladeni keangkuhannya hingga sejauh ini. Entahlah kalau ia hanya menganggapku sebagai koleksi hidup yang tak ada ruginya dipertahankan.

Lain kali datanglah dari pintu samping, if you miss me…, pintaku sambil menyentuhkan tanganku dan menariknya kembali dengan cepat. Toh ia masih punya rancangan sayap yang ingin kulihat, pikirku.

Tidak masalah, jawabnya. Menyimpan tangannya kembali dalam saku celananya.

Akan selalu ada dua pintu samping, seruku mengingatkannya pada Saturn.

Terserah, jawabnya kembali gusar. Ia berbalik pergi. Jupiter menoleh kembali kepadaku dengan ekspresi kesal, meleletkan lidahnya padaku.

Well, aku sudah merusak permainannya eh?

Aku balik menjulurkan lidahku padanya.

Entah kapan kami akan memberanikan diri untuk bertemu kembali, setelah ini.

“In the end…”

Akhirnya kubuka juga pintu belakang.

Bumi tampak beku, kedinginan, namun tetap mencoba tegar di depanku. Dia tak pernah punya kata-kata khusus untukku, tapi aku tahu ia membutuhkan aku seperti ia membutuhkan matahari. Ia bahkan menganggapku sama besarnya dengan bintang itu. Tapi saat aku ingin menuntutnya, ia akan menyelamatkan dirinya pada rasionalisasi massa benda. Membuatku kecut dan kecewa. Dengan tatapan dingin mengingatkanku betapa besarnya ia. Maaf saja bila aku sempat luput dari perhatiannya. Namun saat aku ingin meledakkan diriku sendiri untuk menghukumnya, ia selalu bisa membuatku merasa iba dan berbalik mengklaim diriku sendiri sebagai penjahatnya.

Kali inipun, ia berhasil membuatku menelan kembali gada-gada beronak yang telah kusiapkan untuk menghajarnya.

Kenapa kau tak mendekat agar bisa memelukku? Komandoku padanya.

Ia menurut.

Lebih erat, pintaku.

Ia memelukku lebih erat lagi hingga aku bisa merasakan seluruh diriku diinginkan kembali.

Jangan pernah membelakangiku lagi, aku merajuk.

Bumi menatapku bingung seolah berkata, aku gak mengerti apa maksudmu. Tapi apapun itu… Bibirnya berucap pasrah, aku akan membelikanmu bunga…

Maaf, sebuah kata yang tak akan keluar dari mulut Bumi kecuali aku mengeluarkan samurai untuk mengancam langsung urat lehernya.

Lain kali akan kujelaskan, kesalahanmu, senyumku masam. Dia bahkan tak sadar telah melukai hatiku belakangan ini. Sialan, batinku.

Aku bergeming dalam pelukannya.

Rindu, bisiknya jujur sambil memelukku lagi.

Aku mencoba membayangkan Jupiter, ataupun Saturn, namun mereka bagaikan bintang-bintang raksasa yang selamanya tak kan pernah dapat kurengkuh. Cukuplah aku merasa puas menjadi bintang mungil yang melompat-lompat ceria sesekali di wilayah orbit mereka. Cukuplah aku dalam rengkuhan Bumiku yang tidak posesif. Cukuplah aku menikmatinya saja.

Kuangkat kedua lenganku dan balas memeluknya.

Aku juga…, ucapku.

Kulepas pelukanku dan kuoper sebilah gitar usang miliknya.

Mainkan, untukku, pintaku manja.

Bumi menurut. Ini adalah salah satu keahliannya yang ia simpan hanya untukku. Cukuplah sebagai pengganti bunga manapun yang mungkin mewakilkan permohonannya padaku untuk tetap tinggal.

Dawai gitarnya mengalunkan irama klasik. Air on the G String. Sungguh ironis, lagu ini adalah soundtrack saat Jupiter membantuku malam itu.

Entah siapa yang besok akan muncul dari pintu samping kiri dan kananku. Selama belum ada yang membukakan pintu depan untukku, siapapun boleh mengiringi nyanyianku. Aku hanya tak ingin, lantai bawahku ikut terbuka karenanya. Di situ bukan tempat bintang berada.

Lagi-lagi aku terhenyak oleh sebuah ilham.

Apakah ini yang disinggung Jupiter dengan kriteria surga-ku?

Hanya saat bersama Bumi, langit biru membentang di atas kepalaku. Straight to the stars. Straight to heaven. Bahkan Saturn pun tak bisa mengantarkanku ke sana.

Aku merebahkan tubuh, tersenyum dalam buaian gitar kekasihku. Namun senandungku bukan untuknya.

Jupiter menyayangiku.

Bila saatnya nanti tanganku terulur padanya tanpa keinginan seperti aku pada Saturn, maka akupun mengerti, tak perlu ada pintu depan itu, pintu guanya, atau apapun.

Tapi…

Kuletakkan jemariku di atas jemari Bumi yang tengah memetik nada. Ia menatapku was-was. Aku menunggu hingga gema terakhir menguap ke angkasa. Kusingkirkan gitar itu dan kupeluk wajahnya.

Cuma aku yang memandangmu sebesar ini, mungkin terlalu besar, bahkan untukku, bisikku.

Tak pernah aku merasa seyakin ini. Aku bahkan tak merasa perlu berkonsultasi dulu pada dua sahabatku karena aku tahu jawabannya hanya akan menjadi sekutu di saat aku memang membutuhkan mereka untuk menginsafkanku. Tapi maaf, kali ini aku tidak menginginkan akhir yang sama untuk kisahku.

Kuhentakkan lantai di bawah kakiku dan kurasakan diriku jatuh terlepas dari pelukan Bumi yang tak mengerti. Langit surga mengarak di atas kepalanya. Melagukan sesal tertahan kepadaku. Ia tetap berdiri di sana pada lantainya, sementara aku semakin jatuh dan jauh darinya hingga aku menghilang dari pandangannya, dan aku melayang. Lalu mengambang. Diam.

Ternyata tak perlu sebuah gunting untuk membebaskan diriku. Tapi memang tak pernah mudah.

Ke mana aku setelah ini hanya beroleh satu jawaban dalam hasratku. Aku merindukannya. Aku ingin bermain dengannya.

Moon calling Jupiter…

“I choosed you…”

Jupiter menjatuhkan apapun yang tengah dipegangnya saat melihatku berdiri di dalam guanya. Dia tak tahu apa yang terjadi padaku tapi tetap tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Aku terengah-engah dan tersenyum lebar padanya. Belum sempat kuutarakan maksudku matanya menyeretku untuk melihat ke arah sofa kulit di samping meja kerjanya: gadis-gadis berambut kriting ikal yang tengah duduk berderet menghujaniku dengan tatapan cemburu.

Kamu harus mengantri, ucapnya sambil mencedikkan kedua bahunya seolah tak bisa membuat pengecualian untukku.

No problem, jawabku ringan. Persyaratan masih berlaku kok, ingatku padanya.

Tidak akan lama lagi lho, Jupiter menyeringai senang.

Aku akan mengajak Saturn, godaku.

Jupiter menahan nafasnya seketika. Tapi ia memang jagonya tak mau kalah sejagat raya.

That will be interesting, tantangnya. Kamu bisa langsung menunjuk di tempat, Who is the Best!

So we’ll see, jawabku tenang sambil berbalik pergi.

Mau ke mana? Tanyanya cepat. Terlupa untuk menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya.

Entahlah, jawabku jujur. Ke sini dan ke sana mungkin. Jagat ini sangat luas kau tahu…, ejekku menggodanya.

Sebelum ia berseru lagi aku telah melontarkan diriku sejauh mungkin. Aku tahu gelak tawaku yang tertinggal di ujung kupingnya akan menggelitiknya sepanjang malam ini.

Tidak, aku tidak akan pernah menalikan orbitku pada guanya yang murung itu. Aku sadar sifat posesifku. Satu-satunya kemungkinan ia bisa memilikiku hanya bila ia bersedia menjadi Bumiku yang baru.

Hm, terlalu berambisi mungkin. Tapi bila tidak, menjadi komet lepas bukan pilihan yang buruk kurasa. Aku percaya akan kembali menemukan langit surgaku sendiri. Tak perlu sosok raksasa manapun untuk membawaku padanya.

Akupun melesat. Kubiarkan malaikat mengutuk cemburu karena mereka terikat pada sayap-sayap mereka, sedangkan aku tidak. Well, I aint angel, I’m Moon…

Now you can talk

Now you can smile

Sing

And kiss

Yes, if you’re lucky

To hit and run

And feel free..

That’s all fella! Have a nice day!

aL, January 2009

Jupiter and I - part 2

January 21st, 2009 by cute-cocoon

“Dan kau…”

Setelah proposal itu, aku bertahan dalam kepasifanku. Biarlah Jupiter mempertimbangkannya dulu. Mungkin ia belum menemukannya. Mungkin ia tengah menikmatinya. Mungkin ia dalam dilema…

Yang pasti aku masih di sini, menunggunya membukakan pintu. Sementara pintuku yang lain tengah kututup dari Bumi, pengecut itu. Walaupun Bumi telah mencoba mengetuknya untuk alasan yang lain, aku tak hendak meladeninya saat ini. Aku tahu ia mulai tersiksa tapi sebaiknya ia segera mencari cara untuk mempertahankan satelitnya. Ia telah bermain-main dengan tali entah apa yang mengikatkan orbitku pada dirinya selama ini. Aku mungkin belum bisa melepasnya tapi aku mulai mengulurnya cukup panjang untuk menjangkau Jupiter.

Aku menunggu dan bertahan.

Aku masih tak mau memikirkan kemungkinan yang terakhir.

Waktu bergulir dan aku bahkan tak lagi mendengar ketukan dari arah belakangku.

Shh…

Silence…

I need silence

But don’t be

Aku tak pernah mengira akan melihat sebuah pintu membayang di sampingku dan sosok yang amat kukenal melangkah kembali ke dalam duniaku.

Saturn!

Reflek kuulurkan tanganku ke arahnya, dan ia menyambutnya dengan senyum.

“Yang tak pernah pergi…”

Aku memandang Saturn tanpa ada keinginan yang dulu pernah membius kewarasanku. Keinginan untuk mengorbit padanya tanpa tahu di mana posisiku dalam lingkaran cincinnya yang penuh dengan pecinta. Keinginan itu telah hilang. Kini yang kurasakan, mungkin lebih mirip mimpi. Mimpi lama yang tiba-tiba muncul dan tak mungkin lagi bisa menyakitiku, karena kini aku lebih kuat.

Saturn memandangku dengan emosi yang tak pernah bisa benar-benar kubaca. Mungkin karena ada sepasang lensa yang membingkai matanya, cermin perasaan itu. Tak sekali dalam fantasi usangku, aku merayap ke atas pangkuannya dan perlahan melepas benda itu dari wajahnya. Tentunya dengan keberanian yang kumiliki pada saat itu, sekalian saja kusampaikan surat cinta bulukan berisi sejuta sanjungan dan firasatku padanya. Tapi yah, 90% wanita dalam usiaku saat itu adalah manusia bego tidak percaya diri dan juga terlalu santun. Aku selamanya tak akan pernah mengerti perasaan lain yang pernah ia punya untukku sampai ia benar-benar menunjukkannya sendiri padaku. Memelukku misalnya. Menciumku mungkin. Namun seandainya rasa itu memang ada, ia tak akan pernah melakukannya, kurasa. Kulihat ia telah bahagia.

Entah apa motivasinya kalau begitu. Membimbingku menapaki tangga-tangga panggung dunia, seperti kakak membimbing adik kecilnya yang penurut. Mengiringiku menyanyikan lagu-lagu lama yang tak lagi menghipnotisku seperti dulu. Lagu-lagu yang hanya membuatku terkenang bahwa dalam keluguanku di masa itu, dalam ketidaktahuanku, dalam ketulusanku, aku pernah merasa sangat bahagia karena dia.

Kenapa kau selalu datang dan datang lagi

Dengan kebaikan

Yang selalu membuat aku:

Kembali padamu?

Ah, bullshit. Kita lihat saja nanti ujungnya. Apa yang kau mau dariku Saturn? Asal kau tau rasaku yang dulu telah kebas. Andaipun kita berdua terjerat dalam api maka aku tak yakin aku akan ikut terbakar.

Baiklah, kalau begitu tak perlu khawatir. Nikmati saja berkah ini. Mungkin saja ia malaikat tak bersayap yang tak menjanjikanmu mimpi muluk berbintang pandora. Kau rasakan saja kehidupanmu kembali berdaya.

Ia mungkin memandangiku selama aku mencoba melenakan pendengar di hadapanku. Aku menangkap segaris senyum kecilnya saat aku menoleh cepat ke arah belakang. Aku menyerap pesan matanya yang mengerjap mantap menguatkan hatiku seolah berkata,

…kau lihat Moon-ku yang sendu, jalan yang tak pernah kautapak karena tak ada yang menunjukkanmu padanya. Kau lihat bintang-bintang itu hanya diam dalam sinarnya, sementara kau di sini melukis cahaya…

“…”

Di sini akhirnya kami bertemu. Saturn, aku, dan Jupiter. Tepatnya Saturn dan aku, lalu Jupiter, berkehendak akan satu serbuk meteor yang sama.

Walaupun Jupiter mencoba bersikap biasa-biasa saja pada Saturn, tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa jijiknya padaku. Pandangan menusuk dan cibirannya, benar-benar dimaksudkan untuk menteror mentalku.

Aku mencari-cari matanya dan tersenyum pahit. So Batman, di sini juga rupanya tempatmu bermain. Tempat yang kau buat bagaikan hutan misteri bagiku. Kini kau lihat tanganku dalam genggaman Saturn menyibakkan padang meteor yang ternyata cukup banyak untuk dipetik oleh kita semua. Well, tapi untuk yang satu ini kita lihat saja akan pulang dalam keranjang siapa.

Dengan berlagak santai Jupiter tetap tampak berusaha menunjukkan bahwa ialah yang terbaik di antara para penjual nada ini. Lagaknya benar-benar membuatku mual. Sementara Saturn tetap dengan gayanya yang menginjak tanah. Walaupun ia merasakan aura persaingan yang tebal dari Jupiter, tapi Saturn telah mempersiapkan mentalku untuk menerima hal terburuk. Jupiter memang masih lebih dalam segala hal. Aku dan Saturn saling memandang dan mengerti bahwa perjalanan kami kali ini mungkin tidak akan membawa pulang apapun.

Akhirnya pada saat yang telah dijanjikan, sang pemilik padang meteor menyampaikan kabar keputusannya. Aku bisa membayangkan wajah Jupiter yang hampir terbelah oleh seringai lebarnya.

Aku sedikit mensyukuri hal itu karena kupikir betapa tergoresnya ego sang Jupiter bila sampai kalah dari duet mini mantan juniornya ini.

Hih, kenapa juga aku masih memikirkan perasaannya?

Go to hell Jupiter, and take all of that shits with you!

To be continued

Jupiter and I

January 17th, 2009 by cute-cocoon

Shut up

Shut your mouth

Stop it now

Yes you burn

But not your soul

So shut it down

Now!

But I aint angel… I’m Moon…

“Are you worth it?”

Aku menatapnya lembut.

Aku merasa ia mulai menarik diri.

Apakah ia melihat aku sebagai sosok yang berbeda hari ini? Dengan sikap jinakku, buku New Moon di tanganku, dan green tea latte di depanku yang membuat selera minum kopinya menguap. Dia bahkan tak memberitahuku akan serbuk hijau yang menempel di bibirku sampai aku menyadarinya sendiri di cermin toilet plaza.

Atau justru pada hari inilah ia melihatku sebagai sosokku yang sebenarnya? Entah ia dengan jelas menyadarinya atau tidak, wanita-wanita yang pernah masuk dalam hidupnya selalu berambut kriting ikal seperti aku saat ini. Mungkin setahun terakhir ini aku tampak mirip dengan salah satu dari mereka dalam setelan kaos jeansku. Namun hari ini aku mengenakan busana bergaya Indian yang kalem. Berwarna hijau lumut dengan pita tali berhias bulu burung di kedua ujungnya. Tidak spesial untuknya memang. Hari ini dingin dan baju ini tebal. Dan aku sedang ingin memadankannya dengan sepasang tas dan sepatu suede coklat tua. Kalau rambutku masih panjang, aku akan membuat dua jalinan.

Ia melihatku seperti Edward Cullen melihat Bella berpakaian ala kaum werewolf yang amat dibencinya. Namun ia menahan diri dan melanjutkan niatnya menemuiku untuk mendapatkan informasi mengenai runtutan proses castingku dengan orang-orang pencari bakat itu. Dia tampak kecewa saat kukatakan aku tak tahu pasti pendapat mereka atas demo-demo laguku yang kebanyakan adalah hasil ciptaannya.

Lalu di sepanjang sisa pertemuan ia membalas dengan membuatku menahan mual mendengarkan idealismenya yang perfeksionis tidak kenal tawar menawar dengan kenyataan.

Kami tahu kami tak ingin bertemu lagi dalam waktu yang terlalu dekat.

“Friend? Or… whatever”

Sejak awal aku menyadari kalau aku hanya akan membuang-buang energiku untuk lebih jauh memikirkan Jupiter. Kedua sahabatku tak pernah merekomendasikannya selain untuk kumanfaatkan sebagai guru bermusikku.

Tapi aku tahu dia bukan orang bodoh. Intuisiku menangkap hasratnya dan telingaku mendengarkan keinginannya atas tubuhku. Namun ia tidak ingin mendapatkannya dengan mudah. Aku harus bermain dulu dengannya.

Saat memulainya aku jauh lebih percaya diri akan dapat melindungi diriku dari jebakan-jebakan kecilnya. Rasanya kali ini akan lebih sulit, setelah malam itu ia begitu baik dan sabar denganku. Hadir di saat aku telah tak menginginkan bantuan. Semalaman menjadi kacung editorku mempersiapkan potongan-potongan musik dan lagu untuk demo tape-ku. Apapun motivasinya saat membantuku, aku tak bisa mengingkari hatiku untuk mulai melihatnya dengan cara berbeda.

Terlalu naif untuk menganggap ia membantuku karena ia sedang ingin baik. Aku mungkin telah mengantarkan diri pada sebuah perangkap raksasa. Ah, tentu saja laba-laba akan bersikap santai saat mendekat pada korban yang telah tersangkut pada jaringnya. Namun aku pun bukan lalat sembarangan. Sikap nyamanku malah membuatku menjadi hidangan yang tak lagi menarik baginya. Hal ini akan membuatku aman hingga ia menendangku keluar dari sarangnya karena bosan. Lalu aku akan memulai lagi dari awal. Menari dan mengibaskan sayap kecilku di sekitar sarangnya dan membuatnya kembali mengundangku.

Begitulah rencananya.

“What if…”

Aku sedang merasa sakit dan menyembunyikan diriku di balik gerhana. Aku marah pada Bumi karena telah membuatku percaya dapat menjadi bintang di saat yang begitu singkat dan di saat yang menurutku tidak tepat. Ketika segala intuisiku negatifku akhirnya terbukti ia malah membelakangiku dan membiarkanku menikmati kegetiranku sendirian.

Di balik selimut aku melirik jagat raya yang seolah menanti untuk mulai menertawakanku. Saat ini sungguh aku sangat… sangat membenci Bumi. Jupiter adalah hal manis terakhir yang kuingat sebeum semua kepahitan ini dan aku ingin bermain dengannya.

Tapi Jupiter tengah diam dalam guanya. Setelah pertemuan terakhir kami kemarin terinspirasi menjadi bintang jugakah ia? Masihkah ia ingin tahu akan kesialanku? Atau ia tengah mempersiapkan panggung raksasa yang selalu menjadi obsesinya dan juga berbonus janji dariku untuk membiarkannya menemaniku tidur bila ia berhasil.

Yeah, aku memang menantangnya untuk itu. Walaupun ia protes akan memakan waktu yang lama untuk mewujudkannya. Waktu yang cukup lama untuknya menemukan bulannya sendiri tentu (dan melupakan semua fantasinya denganku) pikirku, and of course waktu yang cukup untukku mengeruk ilmu darinya dengan rasa aman yang lebih terjamin.

Tapi sepertinya… saat ini Jupiter justru menghindariku. Walaupun aku bisa merasakan keberadaanku di dalam kepalanya, ia menahan dirinya oleh suatu sebab. Aku hanya berharap ia mulai menyayangiku dan memang tak ingin aku melunak.

Bagaikan tokoh hero Ironman yang menyelubungi tubuhku dengan besi, dan bagaikan Batman yang tinggal di dalam gua rahasianya, kami memiliki alasan masing-masing untuk melindungi diri kami. Bedanya aku telah terlanjur menginjakkan kakiku di sana, di dalam guanya. Walaupun aku tahu ia merasa tertantang untuk dapat membuka selubung besiku, tapi ia tak pernah ingin aku membukanya sendiri dengan sukarela. Bila ia juga tahu aku tengah membenci Bumi, maka ia akan memalingkan wajahnya dariku selamanya.

Tak ada tantangan = tak ada roman. Dan aku tahu ia memang tak pernah berniat membangun gua untuk dua orang. Tidak sampai kapanpun.

Tapi itu tak menjadi masalah karena aku sedang ingin bermain dengannya. Aku tak tahu apakah kutukan para malaikat dapat menghentikanku melakukannya.

Moon calling Jupiter… Iron(wo)man calling Batman…

“And if I choose you…”

Untuk kesekian kalinya impian menguji daya tahanku. Walau aku telah penuh luka bahkan tengah merasa perih, hasrat itu masih saja ada di sana. Seperti kutukan yang telah menemukan wilayah nyaman dalam empeduku dan tak henti meracuni setiap bulir darahku dengan impian gemintang. Justru di saat tengah terluka seperti ini, virus itu mengasap ganas mengaburkan pandangan mata dan kewarasan nalarku yang sejak awal memang sudah tidak normal.

Dan aku tahu bukan aku saja terkontaminasi virus itu sejak lama.

Bagaimana Jupiter akan menolakku, seorang perempuan yang cukup manis untuk teman mabuk bersama dan punya daya kekebalan tinggi meladeni bualannya yang sebesar tubuhnya itu.

Aku mengambil gitar dan menyanyikan sepotong lagu Olivia di depan gua cyber-nya…

Hey have you ever tried

Really reaching out for the other side?

I may be climbing on rainbows

But, baby here goes

Life can be short or long

Love can be right or wrong

And if I choose the one I like to help me through

I’dlike to make with you

I really think that we can make it boy

Baby you know that..

Silakan menertawakan fantasiku Jupiter, tapi ini adalah proposal. Proposalku untuk mengorbit padamu dan apapun keuntungan yang mungkin kau peroleh selama aku bermain di sarangmu.

I’d let my self burn, burn through my soul… if you’re lucky.

I wont be easy. I promise.

To be continued

Ternyata

November 23rd, 2008 by cute-cocoon

bukan masalah lagi

sekarang…

dulu,

ya

aku mengakuinya…

kutemukan sesuatu yang indah

dalam ilusiku

ternyata

entah nyatanya…

aku mengakuinya

ya

dulu…

sekarang,

bukan masalah lagi…

bandung, 23 nov 2008

Tersenyumlah

May 25th, 2008 by cute-cocoon

Sejak senja
tadi kawan

Di langit
tersusun rasi kerlip siluetmu

Hm… hangat…
tak pernah sepi di dalam sini

Sayup
denting lagumu… mengisi

Terimakasih…
adalah awalnya

 

Hingga
kulihat hujan di pagi hari

Sejuk…
lembut… semuanyapun diam

Kudengar
dentingan manis itu kian menggema

Tak ingin
kutolak lagi:  K  e  p  a  s  t  i  a  n

Yang
tersungging di bibirku… setelah itu

 

***

 

 

Saya terperangah. Gak nyangka, bisa bersua lagi dengan kertas surat berisi puisi ini.

 

Sudah 10 apa 11 tahun yang lalu. Puisi yang sengaja saya tulis
untuk seorang teman, yang katanya ingin ‘nyatain’ sama seorang gadis yang
disukainya. Tapi nyatanya, puisi ini malah saya temukan di dalam hadiah ulang
tahun dari dia buat saya. Waktu itu reaksi saya heran plus kesal.
Sudah capek-capek dibikinkan kok malah dikembalikan?

 

Hmm… alangkah naifnya saya :p

 

Maaf. Saya kok merasa lucu membayangkan reaksi dia waktu
itu. Mungkin dia dan sobatnya yang berisik itu hanya geleng-geleng kepala
melihat ketololan saya. Lalu saat ia tertunduk sedih, sobatnyapun lalu sibuk
mengusap-usap punggungnya seraya berucap, “Suatu saat dia akan mengerti… dia
akan mengerti…”

 

Yeah guys… Akhirnya saya mengerti, sekarang. Setelah
perjalanan takdir merentangkan raga kita, tsunami menyapu kampung halamanmu,
dan tanah menimbun sahabat kita. Namun tidak di benak ini.

 

Saya masih ingat saja saat dia menyuruh mengulang lagi wudhu
saya yang kebetulan terlihat olehnya. “Basuh tangan tuch mesti sampe sikut!”,
titahnya dengan kening berkerut.

 

Sama seperti saya selalu ingat pada sobatnya yang berisik
itu, yang telah mengajari saya sujud syahwi. “Subhaanalladzii laa yas-hu walaa
yanam… makanya kalo sholat jangan sambil mikirin seniormu itu,”
omelnya sambil ngejogrok ngudut di ruang santai.

 

Sang Penyayang telah menghadirkan mereka dalam satu babak
kehidupan saya dulu, namun ternyata bukan untuk menjadi imam saya. Mereka sepasang
sahabat yang tanpa rencana telah membantu menyempurnakan tuntunan awal dan akhir sholat saya. Mereka
berinvestasi dalam setiap sholatku yang diterima-Nya (apalagi yang jumlah rakaatnya lupa ;p).

Yup. They were my male-angels.

 

Mungkin kenaifan saya kala itu adalah berkah.

 

Karena setelah peristiwa puisi dodol itu kami masih bisa
bersama, tertawa.

Puluhan kupu-kupu beterbangan di sekitarku, dia, dan sobatnya.

 

Karena seperti jawabku padanya dulu pada pertanyaan
curi-curinya saat kami bercanda di bawah saung:

 

“Mm… aL, Kalo elo… mungkin gak pacaran sama orang kayak guwa?”,
selidiknya sambil ‘tertawa’.

 

Sayapun menjawab kalem.

 

“Elu kurang tinggi.”

 

 

 

 

Bandung, 26 May 2008

OKan’s Business part 1

April 15th, 2008 by cute-cocoon

Belakangan ini hujan rutin mengguyur kota Bandung setelah
lewat jam makan siang. Saya sih gak takut dengan air yang datang dari atas. Yang
saya hindari justru yang datang dari bawah. Siapa sudi merendam kaki dalam air
keruh sarat kutu air dan lumpur lekat nan sentimen mengancam putusnya tali
sendal kulitku? 

 

So, usai menukar sendal baru Okan yang kekecilan di Yogya
Kepatihan, sayapun bergegas naik angkot jurusan Kalapa-Buahbatu menuju Bandung selatan.

 

Langit mulai mendung, namun payung pink berry ¥500 dalam
tasku berkomplot dengan nafsu baca membaca buku. Saya terbujuk mampir menyebrang
ke pasar buku murah Palasari.

 

Secara gak sengaja, saya telah dengan sadis menawar harga
buku Laskar Pelangi hingga setengahnya. Belakangan saya baru tahu harga aslinya
di toko buku. Maaf ya aa’ penjual buku (pantesan senyumannya tampak begitu
miris saat transaksi). Tapi kan saya udah janji akan beli sequelnya di situ kalo buku pertamanya bagus
(tetralogy pula, wah siap-siap bangkrut :p). And I think I will ;)

 

Saya pun berjalan kaki menuju area sekolah Gagas Ceria di
jalan Malabar.

Gedungnya masih berwarna monokrom kuning sama seperti
guratan pensil warna saya di kopian lembar tampak eksteriornya, sepuluh tahun
yang lalu. Saya sudah lama tau bahwa rumah-rumah tetangga juga telah
diakuisisi, bahkan pabrik hantu di seberang jalan sudah menjelma menjadi
bangunan SD yang modern dan dipenuhi murid2 berseragam putih merah.

Saya masih ingat saat Kak Santi dan Mbak Iyos berbusa-busa
meladeni pertanyaan para orangtua dan kakek-nenek calon murid angkatan pertama.
Pemandangan di depan saya saat ini bikin saya angkat topi untuk mereka. Segala
yang bertujuan baik akan didukung oleh semesta. Indonesia haus akan pendidikan
berkualitas.

 

Kebetulan saat kedatangan saya bersamaan dgn jam bubaran
kelas playgroup. Sayapun tersadar utk kembali melangsungkan niat saya
menjambangi tempat itu.

Walau tanpa janji sebelumnya, tanpa kesulitan reuni saya dan
sahabat2 peng-Gagas Ceria berlangsung, diiringi deras hujan yg pecah di luar
bangunan SD.

 

Berangkat dari info saya mengenai keterlambatan OKan
berbahasa, Kak Santi mengantarkan saya membuat janji dengan seorang dokter
ahli tumbuh kembang di yayasan Indigrow yang menjadi rekanan GC.

 

Gedungnya menempel di belakang bangunan TK GC, berwarna
selaras kuning monokrom. Saya jadi teringat saat sang arsitek memprotes pilihan
warna saya. Katanya tidak sesuai dengan konsep desain ‘hommy’ pada umumnya.

Well, menimbang lokasi perumahan yang adem dan rimbun
pepohonan, saya hanya berpendapat gedung ini membutuhkan sentuhan warna yang
eye catching, yang memberi info kilat pada kendaraan lewat bahwa ini adalah sebuah
tempat bagi anak-anak yang playfull, ceria, ramah, dan bukanlah sebuah
rumah hunian. Desain bangunannya yang cantik, gak perlu diganggu lagi dengan
gambar-gambar kartun atau binatang seperti taman bermain pada umumnya. Terlalu
banyak warna primer hanya akan memberi kesan komersil yang membuat enggan. So,
kuning monokrom is the best solution. Client pun mengangguk pada pikiran seorang
mahasiswi interior ketimbang arstitek profesional tersebut.

 

Sambil berjingkat menghindari sisa-sisa hujan, Kak Santi bercerita
bahwa sampai saat ini mereka sering menerima kunjungan dari para arsitek yang
berkomentar, “Ini adalah bangunan berkonsep anak-anak, yang tidak
kekanak-kanakan.”

Bagi saya pribadi, mengetahui kenyataan bahwa warna tersebut
tetap dipertahankan hingga 10 tahun berlalu, sudah cukup membuat dada ini
bungah.

 

Dokter yang bersangkutan ternyata sedang hanamian ke Tokyo. How ironic gak
seehh?? Apalagi antrian pasien ternyata cukup panjang di buku jadwal sang
dokter. Tanggal 6 Mei terlalu lama bagi saya untuk menunda mengetahui kondisi
tumbuh kembang OKan dari observasi langsung ahlinya. So, saya sebaiknya segera
mencari alternatif lain.

 

Hujan yang tak lagi mengancam dan jalur angkot yang kebetulan
lagi-lagi membuat saya singgah dulu di toko cheesecake favoritku. Rum raisin
cheesecake dan chocolate lava cheesecake pun masuk kantong keresek.

Perjalanan lanjut ke bank saya di jalan Riau guna
mengupgrade buku tabungan yang udah abis titip diprintin bokap. Lalu perut yang
menderita membuat saya dengan senang hati mampir melahap nasi gulai usus di
restoran padang langganan dulu waktu masih berkantor di belakang Polresta Bandung Tengah.

Dipikir-pikir, kok hari ini lebih banyak menyangkut urusan
saya daripada OKan yak, kekeke…

 

 

To be or not to be…

(to be continued maksudnya ;p)

 

 

 

Bandung, 7 April 2008

bukan puisi

March 26th, 2008 by cute-cocoon

matahari mulai bergeser dari lintang nol derajat

hujan deras dan angin menggila

semua terbang dan terendam

 

aku menggali dan menggali

dengan cakar-cakar kecilku

mencari kubur gurita

 

“sedang apa kamu di sini?”

suara serak menyeruak

dari sebuah lubang berkerak

 

“itu elu ya?”

kusipitkan mata sembabku

kukenali siluet kepala bulatnya

 

bantalan kakiku meredam langkah

akupun terebah lelah

bergelung serta memejam

 

dia masih menunggu jawabannya

sorot matanya menghujam kelopak mataku

memaksaku membuka mulutku

 

“gw sekarang tinggal di sini sama elu.”

kurubah posisi kepalaku

membelakanginya

 

“kenapa dengan dunia atas?”

nada suaranya tinggi

dia memang bisa juga keras

 

“lolongan gw pada bulan, udah seperti minyak tumpah di pelabuhan.”

“itu kan sudah biasa, dan bisa diatasi.

so, what are you doing here?”

 

ekorku mengibas

“as you see.”

“i don’t like to see what i see.”

 

aku mulai kesal

“cerewet sekali sih lu? just enjoy it will ya?”

“pemandangan yang kamu suguhkan sama saya sama
sekali gak menarik!”

 

telingaku berdiri

hatiku masih bisa merasakan sakit rupanya

“iyaa… bulu gw udah pada rontok, kumis gw pendek, dan mata
gw belekan!”

 

“dasar kucing liar penyakitan!”

terdengar tawanya terkekeh

mengasihaniku

 

“apa yang kamu harapkan dari saya?

kata-kata manis?

studi banding?

 

asal kamu ingat saja.

kita ini,

tidak sama.

 

di dunia atas saya berjaya.

dari sinipun,

saya masih bisa membuat pelangi bercahaya.

 

sedang kamu

bagai pestisida,

yang meracuni tanah kubur saya!”

 

taringku mendesis

akupun berdiri dengan kuku-kukuku

betapa perih kata-kata yang mengiris dari dalam

 

what have I done?

mencari kekuatan dari sesosok bangkai?

astaga, betapa memilukannya diriku!

 

“dasar tolol!

apa bagusnya pelangi bercahaya buat elu?

lu udah mampus!”

 

gurita itu balas mengamuk dengan seluruh kakinya

menggelosorkan tanah di antara kami

menyisakan sebuah celah

 

aku masih bisa mendengar

pesannya padaku

berbisik menggema

 

“kalau saya jadi kamu,

saat ini saya ada di pantai biru,

bersama pinguin-pinguin saya..”

 

aku tersadar

betapa tega aku mengusiknya

dengan luka kecilku

 

“biarkan gw di sini plis..

gw hanya menunggu musim semi yang tepat,

dan kembali lahir jelita.”

 

aku mendapat jawaban

sebuah celah

yang tertimbun tanah

 

maka kutinggalkan cap bantalan kakiku

di dinding kuburnya

dan kembali menggali ke atas

 

saat teraba tanah basah,

aku tahu aku hampir sampai

namun aku terhenti

 

aku menoleh

pada dinding-dinding pekat

yang membungkusku rapat

 

hm..

betapa hangat

ketiadaan ini

 

cakar-cakar kecilkupun kembali menggali terowongan-terowongan baru

tidak ke atas

tidak pula ke bawah

 

mungkin aku bukan lagi seekor kucing yang takut air

mungkin aku sudah menjelma menjadi

seekor tikus tanah

 

 

 

Shonandai, March 2008

 

Sayonara, Hanami

March 14th, 2008 by cute-cocoon

April
adalah bulan istimewa bagi orang Jepang. Puncak musim semi, di mana luruhnya
bunga ume terganti oleh keindahan bunga sakura, mekarnya tsubaki, dan tulip2
import dari Horanda. Awal semester baru, sekolah baru, pekerjaan baru, apato
baru, biasanya dimulai pada bulan shigatsu ini.

Berakhirnya
musim dingin yg menggigit, yg membuat malas mandi, apalagi tanpa adanya spirit
natal, kado tahun baru dan doki-doki valentinan utk melewatinya *piss men*, merupakan
saat yg sungguh saya nanti2kan. Udah gak sabar rasanya melepas jaket tebal dan
daleman heat tech yg saya kenakan. Udah gak kuku rasanya utk menggilir kaos2
simple dan sendal2 saya yang hampir setengah tahun ini hanya menuh-menuhin lemari.
Belum lagi koleksi2 terbaru, hwaaahhh… terbayang sudah keriaan sepanjang
musim semi hingga musim panas nanti. Tapi…

Tahun
ini, saya gak akan sempat melihat permukaan sungai Hijikawa yang tertutup rata
oleh kelopak bunga sakura. Saya gak akan di sini saat angin membuat hujan
sakura lokal di jalan yg biasa saya lewati. Saat pendamba sakura berdatangan
dari segala penjuru bumi, maka saya justru akan pergi.

Ya,
saya akan pulang. Saya harus segera mengobservasi oKan yg terlanjur bicara
bahasa planet. Analisa sementara oKan hanya bingung bahasa. Semoga gak
aneh-aneh semacam autisme atau gifted child segala rupa. Dia bukan anak yg anti
sosial, dan siapapun gak sudi melakukan kontak mata kalo sedang merasa bosan,
betul? Tapi sebaiknya memang perlu diobservasi, dan saya pikir lingkungan
berbahasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh oKan saat ini. Lebih cepat lebih
baik. Jadi, kami akan pulang. Saya dan oKan.

Motivasi
lain tentu saja ada. Selain kenyataan bahwa setahun kemarin Jepang ternyata
bukan untuk saya, I desperately need more time and more space for my self to do
my own things. Apapun hal2 tak penting asalkan bisa membuat saya bahagia. A
happy mom would make a happy child, aight?   

So,
semua demi oKan. Dan paNda? Yeah, you japanese gals atawa yg campuran could
dying trying, cause paNda akan saya titipkan sama Boss besar. And me? Yeah, um
going to be his talking frog for years, and he’s going to love me more because
of it, bwakakaka… hhh… naseeb kawin ma geek… (hehe, pis paNda, do me
tonight ‘k? *wink*).

Jya,
sayonara hanami (cherry blossom viewing)… haru (spring)… Icha, mbak Indah,
teman2 suamiku, sensei2 nihongo-ku di MIF, para okasan di taman2 bermain, wanwan-chan,
uta-chan, dan koto-chan (tiga yg terakhir titipan oKan ;p). Mina-san, hontouni
iro-iro osewani narimashita.

Arigatou…

 

“Apakah kau pernah merasakan,
lava yang bergejolak di ulu hatimu, sementara angin musim dingin justru membuat
kornea matamu beku? Lalu saat putik sakura mulai merekah, jiwamu justru
mengkristal bagaikan salju. Dingin, keras, keropos. Bahkan saat kau duduk di
bawah pohon sakura yang tengah rontok, telapak tanganmu malah menangkap sehelai
daun kering coklat yang rapuh, rangup. Sama seperti perasaan Troy saat
memandang sungai yang tertutup helai kelopak sakura mati, perlahan hanyut
menuju laut. Bagai sisik naga, menggelosor tenang tanpa emosi. Membawa pergi
halusinasinya yang berwujud sebuah sampan, tempat sang kekasih terbujur diam,
lengkap dengan bayangan phoenix yang melintas di atas jasadnya.”

 

From my
unpublished novel, “Bell of Dragon’s Love”. Hh, kapan yak kamu
lahir sayang?

 

 

Shonandai, Maret
2008

I want to go

February 20th, 2008 by cute-cocoon

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Mendadak kepala saya berdenging. Rengekan si oKan yg gak mau
ditinggal bapaknya berlanjut dgn jeritan2 dari dalam kamar mandi. Konsentrasi saya
buyar sudah. Script novel-yg-rencananya-akan-saya-bikin-animaticnya dan kelak-filmnya-akan-saya-sutradarai-sendiri-itu
baru sampai satu halaman. Langsung saya usir laki-laki itu pergi dan meneruskan
ritual memandikan si kecil dgn cara yg dia suka.

 

May be an island,
island

Blue sky and sea

On an island – island –
island…

May be…

 

Di luar tampak cerah, meskipun dingin. Mood utk kembali ke
buku corat-coret saya tadi terkapar luka. Segenap kemampuan zen saya kerahkan
utk kembali menstabilkan genangan aura yg mudah terciduk ini.

 

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Lihat, si oKan sudah tenang, wangi, dan cakep. Saya ingin
mengajaknya mandi matahari, ya, meskipun dingin. Tapi hari ini Shonandai
terlalu sempit buat saya.

 

May be a mountain,
mountain

White snow and trees

On a mountain –
mountain – mountain…

May be…

 

Kaos kaki penguin oranye si kecil menginjak kursi densya dan tubuhnya merapat ke jendela. Wajahnya tampak senang menyisiri pemandangan sepanjang Sotetsu Line. Yup, Yokohama, here we come!

I want to go

I want to go

On a trip, a trip

Some where…

 

Roda baby car oKan mengesot di lantai gedung stasiun Yokohama.
Join Us!, Takashimaya, West exit area. Kami lunch dgn shrimp-mayo-nya Kono
Pizza (pizza cone) dan donat macha-nya Doughnout Plant. Ya, kali ini bukan
spagheti, paela, udon, tempura dan sejenisnya.

Habis refill, si pangeran kecilpun kembali bertahta di atas kereta kencananya yg mulai sempit.
Naluri mengarahkan saya ke East exit, Vervex, lalu menyebrang ke tunnel Diamond menuju Hiyodobashi.

 

May be a ROCKET,
ROCKET

Bright moon and stars

On a rocket – rocket –
rocket…

Maybe…

 

Matahari menyingkir sudah. Kaki ini sudah lelah. oKan sudah lama
gelisah. Tapi saya gak ingin pulang. Saya sedang gak ingin pulang. Hati saya
melarang. Pikiran saya yang mengalah. Belum masak. Duit abis. Tambah dingin. Hak
sepatu boot saya pun melangkah. Naik densya Yamato, transfer ke densya
Shonandai di Futamatagawa. Pulang.

 

All around the world,
there are places I want to go…

All around the world,
there are people I want to know…

 

Saya gak ingin pulang. Tidak ke tempat itu lagi. Lihat,
tempat itu semakin dekat. Tapi saya kan sedang gak ingin pulang? Diamlah, dasar cengeng.

 

I want to go…

 

Laki-laki itu sudah lebih dulu sampai di tempat itu. Dia sedang
menutup rolling door jendela. Saya serahkan si oKan padanya. Juga tas belanjaan
berisi sweater wool dan air protection jacket barunya. Ya, kali ini bukan utk
saya maupun si kecil.

 

I want to go…

 

Saya biarkan laki-laki itu makan dengan sisa lauk semalam. Saya
celupkan tubuh saya ke ofuro hangat bercampur serbuk wangi midori. Saya pijati
betis-betis saya. Saya pejamkan mata saya. Lama.

 

I want to go…


Somewhere…

 

 

 

Shonandai, 18 Feb 2008

Text song was taken from ‘Eigo
de asobo’ NHK television program for children

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hanya menumpang

February 4th, 2008 by cute-cocoon

Ketika kita memikirkan anak kita, maka kita gak bisa hanya
berpikir tentang dia. Bagaimana dgn teman-temannya? Gurunya? Lingkungannya? Masa
depannya?

 

Ketika kita mulai berpikir tentang dunia, manusia, maka kita
selalu dikembalikan pada asal muasal kita. Dari negara mana? Bangsa mana?
Pernah makan roti?

 

Setahun saya tinggal di negeri orang. Negara maju yg
memiliki segalanya.

Setahun menikmati fasilitas yg mempermudah hidup
sehari-hari.

Monorel on time, fending machine, lift dan eskalator di tiap
stasiun, toilet umum bersih yg gak bayar lagi dan selalu bertisu.

Keamanan 24 jam, kebebasan berpenampilan tanpa intaian
kriminil ataupun suitan pengangguran di jalanan.

Akses informasi ter-update, sign system yg ramah, dan segala
urusan surat2 ijin tanpa pungli. Bahkan warga asing turut menerima dana
tunjangan hidup utk anak.

 

Betapa praktisnya. Sungguh nyaman.

Tapi saya hanya menumpang.

 

Pemerintah Jepang sudah melapangkan trotoar dan
menyingkirkan segala kerikil2 dlm perjalanan warganya menuju tempat bekerja dan
beraktivitas.

Silakan berpikir tentang hal2 penting saja. Leptop setipis
amplop, mobil listrik, robot pelayan, tomat rasa coklat, dan baling2 bambu.

 

Negara sudah membuat aturan struktur bangunan utk rumah dan
gedung anti gempa.

Ayo, tinggalkan rumah dan pergilah shopping ke pertokoan. Belilah
perabotan mahal agar tak mudah rusak dan kalian tak perlu sering2 keluar uang
utk membuangnya. Pilihlah pakaian tercantik yg kalian suka. Be kawaii as hell.

Tenang, kita gak
memboroskan sumber daya alam kok. Toh sisanya kita lempar ke pasar asia tenggara.

 

Jangan lupa, boronglah komik juga, main ke pachinko, dan
minum2 ke bar.

Maaf, memang harga2 di sini sedikit mahal, tapi petani dan
nelayan kita gak ada yg miskin.

Dengan berbelanja dan menikmati hidup, kita berbuat baik,
karena roda perekonomian negara kita dan jg dunia akan terus berputar. Pajak
mengalir ke kas negara kita.

Nanti sebagian kita sumbang utk pendidikan anak2 sekolah negara miskin yg menyanyikan lagu potong bebek angsa itu.

Nanti kita bangun jalur2 monorel lg ke sini dan ke sana. Para pengusaha property bersiaplah utk membangun mansyon2 dan mall2 baru di stasiun2
baru.

 

Betapa optimisnya. Begitu bergairah.

Dan sy ini sekali lg, hanya menumpang.

 

Semua faslitas ini, semua kenyamanan ini, dibuat pemerintah
Jepang ya utk warganya. Untuk orang Jepang. Untuk anak2 Jepang. Mereka yg hapal
huruf kanji Jepang dan menghormat saat bendera Jepang dikibarkan.

 

Saya heran, negara sekecil pulau Jawa ini, begitu banyak
mengimport TKI dari negara sy. Sementara di Jawa sendiri msh buanyak sekali
pengangguran.

 

Bila tiba saatnya Jepang gak lg membutuhkan TKI dan malah
membanjiri dunia dgn robot2 manusianya, sy ngeri membayangkan bencana
pengangguran di negara sy di masa yg akan datang.

Lalu anak sy, si oKan, harus ikut bersikut-sikutan di antara
mereka.

Maklum sy bukan dari kalangan bisnisman tajir atau keluarga
pejabat berkoneksi yg bisa menjamin keturunan sy mendapat pekerjaan impiannya.

 

Namun kalau kita semua berpikir putra2 bangsa yg pintar
selalu punya tempat di luar negeri, lalu apa jadinya negara saya?

 

Kenapa sih kita gak bikin aja hujan emas di negri sendiri?

Gimana caranya biar sy jg bisa merasakan kenyamanan yg sama
di negara saya?

 

Kan gak enak numpang terus. Malu!

 

 

 

Shonandai, Februari 2008